Kisah
Kisah Bijak Para Sufi: Orang-Orang Buta dan Gajah PDF Cetak E-mail
Oleh redaksi   
Minggu, 04 Maret 2012 13:29

Oleh : Fenfen Fenda Florena

 

Dalam kitab Ad-Daulah al-Islamiyah  karangan as-Syaikh Abu Ibrahim Taqiyuddin Muhammad bin Ibrahim bin Mushthofa bin Isma il bin Yusuf bin Hasan bin Muhammad bin Nashiruddin an-Nabhani atau yang akrab dipanggil dengan nama as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, kita mendapati penjelasan yang begitu terang, jelas dan menakjubkan tentang metode perjuangan yang ditempuh Rasulullah saw dalam meraih kepemimpinan  ditinjau dari sisi politis, sisi yang terkadang kerap tidak disoroti oleh kebanyakan umat islam saat ini.

Dalam muqodimah kitab tersebut, seorang ulama polymath (seorang mujtahid mutlak, expertis dalam bidang ushl fiqh, pemikir politik Islam, peletak dasar ilmu ekonomi Islam, penyusun konstitusi Islam) yang telah hafizh Qur'an sebelum usianya 13 tahun ini pun mewanti-wanti kita untuk sabar membimbing dan mengarahkan umat dalam memperkenalkan Islam, karena disadari atau tidak, umat islam sendiri telah banyak kehilangan memori tentang Islam dan memiliki persepsi/gambaran yang tidak utuh terhadap islam dan bentuk pemerintahan islam itu sendiri.

Umat saat ini hanya dapat menyaksikan sisa-sisa islam dengan fosil-fosil Pemerintahan Islam yang sudah dimuseumkan dengan rapi. Betapa sulit sekali bagi umat untuk memperoleh gambaran tentang Islam dan Pemerintahan Islam yang mendekati fakta sebenarnya, hal ini merupakan kondisi yang sangat wajar akibat persepsi umat telah dibangun secara tersistematis oleh standar sistem demokrasi terhadap Islam yang penuh dengan pengebirian dan  pengkerdilan terhadap wujud Islam itu sendiri, apalagi  diperparah dengan melemahnya kekuatan berpikir umat yang disertai dengan serangan bertubi-tubi tsaqofah Barat yang rusak dan merusakan.

Sahabat seperdjoeangan, mari kita bersama-sama menyimak sebuah kisah yang sejak berabad-abad lalu menjadi nasihat para Sufi kepada murid-murdinya, sebuah kisah yang menggambarkan kepada kita betapa pentingnya umat  memahami Islam secara menyeluruh dan utuh, enggak setengah-setengah. selamat menikmati..

*** ***

Kisah Bijak Para Sufi: Orang-Orang Buta dan Gajah

Alkisah, di seberang Negeri Ghor ada sebuah kota. Semua penduduknya buta. Seorang raja beserta rombongannya lewat dekat kota itu; ia membawa pasukan dan berkemah di gurun. Raja itu mempunyai seekor gajah perkasa, yang digunakannya untuk berperang dan membuat rakyat kagum.

Penduduk kota itu sangat antusias ingin melihat gajah tersebut, dan beberapa dari mereka yang buta pun berlari untuk mendekatinya.

Karena sama sekali tak tahu rupa atau bentuk gajah, mereka hanya bisa meraba-raba, mencari kejelasan dengan menyentuh bagian tubuhnya. Masing-masing hanya menyentuh satu bagian, tetapi berpikir telah mengetahui sesuatu.

Orang buta pertama mendekati gajah. Ia tersandung dan ketika terjatuh, ia menabrak sisi tubuh gajah yang kokoh. “Oh, sekarang aku tahu!” katanya, “Gajah itu seperti tembok.”

Orang buta kedua meraba gading gajah. “Mari kita lihat...,” katanya, “Gajah ini bulat, licin dan tajam. Jelaslah gajah lebih mirip sebuah tombak.”

Yang ketiga kebetulan memegang belalai gajah yang bergerak menggeliat-geliat. “Kalian salah!” jeritnya, “Gajah ini seperti ular!”

Berikutnya, orang buta keempat melompat penuh semangat dan jatuh menimpa lutut gajah. “Ah!” katanya, “Bagaimana kalian ini, sudah jelas binatang ini mirip sebatang pohon.”

Yang kelima memegang telinga gajah. “Kipas!” teriaknya, “Bahkan orang yang paling buta pun tahu, gajah itu mirip kipas.”

Orang buta keenam, segera mendekati sang gajah, ia menggapai dan memegang ekor gajah yang berayun-ayun. “Aku tahu, kalian semua salah.” Katanya. Gajah mirip dengan tali.”

Sekembalinya ke kota, orang-orang yang hendak tahu segera mengerubungi mereka. Orang-orang itu tidak sadar bahwa mereka mencari tahu tentang kebenaran kepada sumber yang sebenamya telah tersesat.

Mereka bertanya tentang bentuk dan wujud gajah, dan menyimak semua yang disampaikan.

Orang yang menubruk bagian tubuh gajah yang kokoh  ditanya tentang bentuk gajah. Ia menjawab, "Gajah itu besar, terasa kasar, luas, dan kokoh seperti tembok."

Orang yang tangannya meraba gading gajah berkata, "Engkau keliru, aku tahu yang lebih benar tentang bentuk gajah. Gajah itu mirip tombak bulat, licin dan tajam."

Orang yang meraba belalai gajah berkata, "Kalian berdua keliru, aku tahu yang lebih benar tentang bentuk gajah.

Gajah itu mirip ular menggeliat, mengerikan dan suka merusak."

Selanjutnya,  orang yang memegang kaki gajah berkata, "Gajah itu kuat dan tegak, seperti batang.”

Orang yang memegang telinga gajah berkata, "Gajah seperti kipas, lebar dan kasar."

Terakhir, orang yang memegang ekor gajah berkata, "Sudah kukatakan, kalian semua salah! Gajah itu berayun-ayun seperti tali!"

Demikianlah keenam orang buta itu bertengkar. Masing-masing tidak mau mengalah. Semua teguh dengan pendapatnya sendiri, yang sebagian benar, namun semuanya salah. Mereka semua hanya meraba bagian tubuh gajah yang berlainan, mereka tidak melihat keseluruhan hewan gajah itu sendiri, masyarakat pun ada yang percaya kepada yang satu dan tidak percaya kepada yang lain, ada juga yang tidak mempercayai kesemuanya dan ada sedikit yang bisa menyimpulkan keseluruhan pendapat para orang buta.

 

**** ****

Sahabatku,

Umat saat ini telah kehilangan gambaran yg utuh tentang Islam, mereka mengenali Islam dan memang diperkenalkan kepada Islam secara parsial saja oleh para pemandunya. Di satu sisi, ada yang memperkenalkan Islam hanya sebatas akhlak sehingga umat beranggapan bahwa Islam ya sebatas akhlak dan perbaikannya, di sisi yang lain ada yang memperkenalkan islam sebatas ibadah mahdlah sehingga umat beranggapan bahwa islam jauh dari pengurusan umat/politik dan merasa jijik ketika beraktivitas dengannya. Padahal, setiap hari, setiap jam bahkan setiap detik umat bersentuhan dengan aktivitas politik dan menjadi korban akibat kesalahan basis dan derivat politik (baca: basis ideologi kapitalisme, derivat: demokrasi, sekularisme, liberalisme).

 

Tentu kita tidak mengatakan bahwa perbaikan akhlak, peningkatan kualitas-kuantitas ibadah adalah hal yang keliru, wah  wah, jelas bukan itu yang dimaksud, karena keduanya tentu akan berganjar pahala dari Allah swt. Jangan salah paham dulu ya. Fokus pembahasan kita disini adalah kaitan atau hubungan antara persepsi & aktivitas parsial yang dilakukan umat dengan dampaknya kepada kebangkitan yang sejati. Pertanyaannya cukup sederhana, apakah dengan perbaikan individu dan peningkatan frekuensi serta amplitudo ibadah secara otomatis akan menghantarkan kita kepada kebangkitan?

Apakah keberhasilan memperbaiki individu (akhlak-ibadah) akan serta merta menjadikan umat sebagai  masyarakat yang islami? sementara aturan yang diterapkan di negeri-negeri mereka adalah aturan kufur? sementara keamanan di dalam negeri mereka didominasi oleh orang kufur, fasik dan gemar melakukan maksiyat?

Jelas tidak, seribu kali tidak! kenapa?

karena unsur pembentuk individu sudah berbeda dengan unsur pembentuk masyarakat. Pilar-pilar individu adalah akidah, ibadah, akhlak dan muamalah. Baik-buruknya individu sangat bergantung pada baik-buruknya unsur atau pilar pembentuknya. Sementara pilar-pilar masyarakat adalah pemikiran, perasaan dan aturan yang sama. Baik-buruknya masyarakat bergantung pada baik-buruknya pemikiran, perasaan, dan aturan-aturannya. karena unsur pembentuk keduanya berbeda, tentu upaya untuk memperbaiki masyarakat berbeda dengan upaya memperbaiki individu.

hufh, Sayang sekali bukan, jika potensi dan gelora kebangkitan umat teredam hanya karena persepsi parsial telah terbangun dan terhujam begitu mendalam di benak mereka. Dan lebih parah lagi, kemunduran berpikir umat ini malah dijadikan sebagai legitimasi dan pendalilan sebagian kalangan aktifis dakwah (sebagian, hanya sebagian kok ;) yang menolak secara halus untuk mendukung  perjuangan penegakkan sistem syariah dalam rezim khilafah dengan metode kenabian (Syariah-Khilafah ala minhaj nubuwwah, bukan ala minhaj dimuqratiyah wa rosimaliyah-demokrasi kapitalisme) dengan alasan umat belum siap untuk menerima kebangkitan melalui perjuangan secara revolusioner dan totaliter.

Tentu, kita tidak bisa berdiam diri dan berpangku tangan membiarkan umat dan generasi baru  ini tumbuh dengan persepsi yang tidak utuh dan aktivitas yang parsial karena hal ini sangat fatal jika dibiarkan berlanjut. Kemunduran berpikir umat yang telah menjadi salah satu faktor keterpurukan  disegala bidang hendaknya menjadi sebuah faktor penguat kita untuk terus 'berdjoeang' menggoreskan pena kemuliaan (izzah) Islam, demi cinta kita yang begitu mendalam kepada umat, demi kedalaman aqidah kita yang menuntut 'perdjoeangan'  yang tak kenal henti, dan ingat, umat tidak serta merta menggantungkan secercah harapannya diatas ufuk timur; karena mereka percaya sepenuh hati bahwa masa depan mereka tergantung kepada kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas yang kita lakukan mulai saat ini.

Sahabatku,

di pundak kurus kita  umat menggantungkan harapan,

di kepalan tangan kita  umat mengharapkan masa depan.

di lisan kita umat mengharapkan pencerahan,

di hati kita umat merindukan kasih sayang,

di mata kita umat melihat sebuah kejayaan,

di atas keberanian kita umat berlindung, bergerak dan bangkit menuju lorong kebangkitan yang penuh dengan lautan pahala dan negeri syurga yang kekal abadi, penuh kenikmatan hakiki.

Sahabatku,

jika kita terlahir bukan untuk menjadi pemenang atas pertarungan ideologi demi meraih  peradaban yang hakiki, lantas untuk alasan apa kita lahir ke bumi ini? Bukankah kita dilahirkan sebagai pemenang? Bukankah kita dilahirkan untuk berjuang meraih kemuliaan dan kegemilangan umat di atas panji Islam, diatas Al-Qur'an dan as-Sunnah.

Sungguh jika suatu hari Khilafah tegak kembali, air mata kita pasti akan jatuh berlinang, hati kita akan riang tiada terperi karena perjalanan yang telah dititi. Perdjoeangan inilah yang akan menjadi kado amalan yang akan kita banggakan dihadapan Allah swt  kelak, yaitu ketika di yaumil akhir nanti, Allah SWT brtanya kepada kita :

 

"Wahai fulan/fulanah, apa yang telah engkau lakukan di dunia sehingga Aku harus memasukanmu ke SyurgaKu?"

Tentu kita semua berharap bisa berucap dengan penuh rasa bangga, saat itu air mata kita jatuh berlinang penuh cinta, segala penderitaan yang kita alami di dunia lenyap seketika, karena balasan yang akan diberikan Allah swt kepada kita, sungguh jika saat itu tiba, kita memohon kepada Allah swt agar kita bisa berucap lirih :

" Duhai Allah..  telah  ku jadikan hidupku sebagai pengabdian kepadaMu, telah kujadikan islam sebagai agama dan sistem hidupku, telah kujadikan Muhammad sebagai kekasihku dan suri teladanku, telah ku jadikan al-Qur'an petunjuk dan pedoman hidupku, dan  telah ku jadikan hidupku sebagai perjuangan kepada umatMu,  inilah persembahan

terbaikku,terimalah perjuangan hambaMu, ya Rabb..""

Wallahu'alam bi ash-shawwab.

LAST_UPDATED2
 
Pelajaran dari Syaikh Asal Iran PDF Cetak E-mail
Oleh redaksi   
Sabtu, 03 Desember 2011 14:45

Mempersiapkan Tidur yang Lebih Lama

Para pembaca rohimakumullah, pada kesempatan ini penulis ingin menceritakan the true story, yang penulis alami. Suatu ketika  mengisi kajian tafsir privat di sebuah tempat. Peserta dari pengajian ini memang menengah ke atas dari segi umurnya, salah satu diantaranya kira-kira berumur 68 tahun. Beliau, peserta tersebut, sudah menyandang gelar haji, atau lebih kita kenal bapak haji-begitu kita memanggil-. Bahkan beliau tergolong orang yang sering melaksankan haji, umroh, dan safar/ ziaroh/ rekreasi. Itu memang kelebihan finasial beliau yang mumpuni, sehingga kadang-kadang beliau sering bercerita perihal pengalaman beliau ketika sedang safar baik di Makkah, Madinah, maupun di Siprus Turki.

Para pembaca rohimakumullah, suatu ketika mulailah pengajian tafsir yang penulis pimpin. Suatu kebiasaan penulis yaitu membacakan nafsiyah Islamiyyah sebelum kajiannya dimulai, karena dengan nafsiyah lah hati manusia akan kembali segar. Sehingga kebiasaan ini penulis terus pertahankan di setiap mengisi pengajian-pengajian di berbagai tempat.

al-kisah, dalam pengajian tersebut penulis membacakan hadis yang berbunyi:

 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ:

((كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ))

[ ابن ماجه ]

 

Artinya: Dari Ibnu Umar, ia bercerita: “Suatu ketika saya menyertai Rosulullah SAW, datanglah seorang laki-laki ansor dan mengucapkan salam kepada Nabi SAW. Kemudian pemuda ansor tadi melanjutkan dengan pertanyaan, ‘Orang mukmin seperti apakah yang paling utama?’. Beliau SAW menjawab: ‘Yang paling baik akhlaknya’. Ia bertanya lagi: ‘Orang mukmin seperti apakah yang paling cerdas dan bijak?’. Beliau SAW menjawab: ‘Orang yang paling banyak mengingat kematian serta yang paling baik dalam mempersiapkan kematiannya, mereka lah orang-orang yang bijak dan cerdas’.” (HR. Abu Daud)

Kematian itu pasti akan menimpa kita, apapun penghalang yang kita miliki untuk menghindari kematian itu. Walaupun kita bersembunyi di balik tembok besi yang sangat kuat pasti kematian akan menjemput kita, baik kita mau ataupun tidak mau. Siap atau tidak siap kematian pasti akan menjemput kita, rela ataupun tidak rela kematian pasti akan memaksa kita. Suka ataupun tidak suka kematian tetap lebih berkuasa dari pada kita.

Selain itu, kematian itu tidak mengenal umur. Masih muda bukan berarti masih jauh dari kematian. Bisa jadi kita meninggal besok pagi atau nanti sore atau bahkan satu jam lagi, baik via jalur kecelakaan, ataupun jalur-jalur yang lainnya. Kebahagian tidak pernah bisa menjauhkan kita dari kematian, banyak orang yang meninggal karena diawali dengan kebahagiaan. Bersyukur dan perbanyaklah berzikir ketika kita mendapat nikmat yang cukup dari Allah SWT. Semakin memperbanyak istigfar ketika mendapat nikmat merupakan keindahan tersendiri. Jaga hati kita tatkala kebahagiaan menghampiri kita. Jangan sampai penyakit sombong mampir di hati kita.

Sambut kematian kita dengan kebaikan, amal sholeh, serta sebuah perjuangan menegakkan Syariah dan Khilafah. Lengkapi persiapan kita dengan keikhlasan serta kesabaran, kebahagiaan dunia dan akhirat pasti akan kita genggam. Sambut kematian kita dengan kesuksesan sebenarnya; yaitu kesuksesan akhirat kita, rumah masa depan kita, masa depan kita yang sebenarnya. Tiada guna kesuksesan kita di dunia ini, tanpa kita arahkan menuju kesuksesan akhirat kita.

Kematian yang Pasti Akan menjemput kita tersebut, pastinya kita harus sambut dengan hidangan amal sholeh kita dan ketaqwaan kita. Kematian yang akan menjemput kita tersebut, tentunya tidak terjadwal, dan kita pun tidak bisa menjadwalnya, apalagi mem-booking-nya. Alangkah indahnya kalau kita siapkan diri kita setiap saat untuk menyambut ajal tersebut.

 

Istirahat Sedikit

Para pembaca rohimakumullah, setelah penulis jelaskan panjang lebar. Merupakan kebiasaan penulis meminta tambahan penjelasan/ masukan kepada jamaah penulis, yang notabene mereka lebih sepuh dari penulis. Penulis mengatakan, mungkin ada tambahan penjelasan atau pertanyaan dari bapak. Beliau mengatakan: ada ustad, penulis sambut dengan kalimat tafaddol bapak ceritakan.

Begini ustad, suatu ketika kami melaksanakan umroh. Setelah umroh, sebagaimana kebiasaan orang pada umumnya, kami melaksanakan ziaroh makan Nabi SAW yang terletak di Madinah. Ketika kami sampai di Madinah, pergilah kami ke hotel masing-masing. Ketika pertengahan malam mendatangi kami, kira-kira jam dua tengah malam, kami bersama kawan berjalan-jalan di sekitar Masjid Nabawi, mengelilingi Masjid Nabawi.

Saat kami berkeliling Masjid Nabawi di tengah malam tersebut, bertemulah kami dengan seorang yang sudah sepuh. Sehingga kami menyapanya, kaifa haaluk ya syaikh? (terj: Bagaimana kabarnya ya syaikh),

Ia menjawab: Alhamdulillah bikhoir wakaifa haaluka anta? (terj: Alhamdulillah baik, bagaimana kabar anda)(syaikh bertanya balik),

beliau menjawab: Alhamdulillah ana bikhoir.

Beliau melanjutkan kembali pertanyaannya: bapak dari mana? Ia jawab: dari Iran

Setelah itu tad, ana tanya kepada orang yang dari Iran tersebut, kenapa bapak belum  tidur bukannya sekarang sudah jam dua lewat. Kalau bapak tidak tidur, mungkin subuh sebentar lagi sudah datang? terus, kapan bapak tidurnya?

Beliau menjawab: “Lebih baik tidur sebentar untuk mempersiapkan tidur yang lebih lama”.

Para pembaca rohimakumullah, penulis terbelangak heran mendengar kalimat terakhir tersebut. Yang mengajak kita untuk meminimalisir tidur kita demi tidur kita yang lebih lama. Kematian merupakan awal tidur kita dan dilanjutkan dengan akhirat kita. Kakek-kakek kita sebelumnya pun sudah merasakan hal ini, di mana beliau-beliau sudah menjalani tidur lamanya di alam kubur, renung penulis.

Mudah-mudahan kita bisa memaksimalkan waktu kita untuk meminimalisir tidur. Dan memaksimalkan amal soleh kita. Aamiin.

 

Just Tips

Para pembaca rohimakumullah, untuk memaksimalkan waktu kita, tentunya kita perlu kegiatan. Agar kegiatan kita bisa berjalan dengan baik dan maksimal, meminta bantuan kontrol dari ustad/ ustadzah, murobbi/ murobbiyah, musyrif/ musyrifah kita adalah merupakan hal yang positif untuk melejitkan kualitas waktu kita. Itu contoh cara memaksimalkan waktu dengan bantuan eksternal. Secara internal pun kita bisa mengatur waktu secara maksimal, bahkan menjadi habbit, misalnya malam kita dibagi sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk menghapal, sepertiga untuk menelaah tsaqofah kita.

Para pembaca rohimakumullah, ketika kita kurang kegiatan (red: amanah), silahkan minta kepada ustad/ ustadzah kita, musyrif/ musyrifah kita, murobbi/ murobbiyah kita, mas ul/ mas ulah kita amanah dakwah/ peluang dakwah, sehingga kita tidak mendapat jabatan sebagai ‘muslim pengangguran’ atau ‘aktivis pengangguran’, muslim/ aktivis yang tidak mendakwahkan apa yang dia dapatkan. Wal iyya dzubillah. Mudah-mudahan waktu kita eksis dengan produktifitasnya. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan rahmat, taufik, serta hidayahnya. Mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian. Aamiin.

 

Agus Khoiri,  Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

LAST_UPDATED2
 
Biografi dan Profil Imam Malik PDF Cetak E-mail
Oleh redaksi   
Senin, 14 Maret 2011 06:27

Biografi dan Profil Imam Malik

Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta' (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam. Namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun, ''Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia.''

 
Biografi dan Profil Imam Syafi'i PDF Cetak E-mail
Oleh redaksi   
Senin, 14 Maret 2011 06:20

Nama dan Nasab Imam Syafi'i

Beliau bernama Muhammad dengan kun-yah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau , yaitu Hasyim bin al-Muththalib.

 
Kisah Sahabat Nabi, Bilal bin Rabah PDF Cetak E-mail
Oleh redaksi   
Selasa, 08 Maret 2011 07:13

Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 28
Template designed by: kafi