Mahasiswi Bicara
Hati Nurani Ibu Lenyap di Telan Kemiskinan PDF Cetak E-mail
Oleh redaksi   
Kamis, 14 Juni 2012 17:45

Ada berbagai macam kejahatan yang terjadi di bumi ini, mulai dari yang berskala besar seperti pembunuhan massal (genocide) hingga yang berskala kecil seperti pencurian, penipuan, penggelapan, perampokan, pemerkosaan dan lain sebagainya. Sejumlah kejahatan dapat terjadi seketika seperti pembunuhan tidak berencana dan semacamnya. Sementara itu, terdapat banyak bentuk kejahatan yang sudah direncanakan sebelumnya, bahkan disiapkan secara cukup matang. Dalam Pembunuhan anak terdapat unsur-unsur :

a. Unsur khusus: seorang anak yang baru dilahirkan atau tidak berapa lama setelah dilahirkan
b. Unsur umum: perbuatan itu merupakan perbuatan pembunuhan yang harus dilakukan dengan sengaja.
c. Perbuatan itu harus dilakukan oleh seorang ibu.
d. Perbuatan itu harus dilakukan oleh seorang ibu terhadap anaknya yang sedang atau tidak berapa lama setelah dilahirkan sendiri.
e. Perbuatan pembunuhan itu harus dilakukan berdasarkan suatu motif yaitu si ibu didorong oleh perasaan takut akan diketahui bahwa ia melahirkan anak. Yang paling marak saat ini adalah kasus aborsi.

Banyak alasan mengapa wanita melakukan aborsi, diantaranya disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :

1. Alasan sosial ekonomi untuk mengakhiri kehamilan dikarenakan tidak mampu membiayai atau membesarkan anak.
2. Adanya alasan bahwa seorang wanita tersebut ingin membatasi atau menangguhkan perawatan anak karena ingin melanjutkan pendidikan atau ingin mencapai suatu karir tertentu.
3. Alasan usia terlalu muda atau terlalu tua untuk mempunyai bayi.
4. Akibat adanya hubungan yang bermasalah (hamil diluar nikah) atau kehamilan karena perkosaan dan incest sehingga seorang wanita melakukan aborsi karena menganggap kehamilan tersebut merupakan aib yang harus ditutupi.
5. Alasan bahwa kehamilan akan dapat mempengaruhi kesehatan baik bagi si ibu maupun bayinya. Mungkin untuk alasan ini aborsi dapat dibenarkan.

Dengan berbagai alasan seseorang melakukan aborsi tetapi alasan yang paling utama adalah alasan-alasan non-medis. Di Amerika Serikat alasan aborsi antara lain:

1. Tidak ingin memiliki anak karena khawatir menggangu karir, sekolah, atau tanggung jawab yang lain (75%)
2. Tidak memiliki cukup uang untuk merawat anak (66%)
3. Tidak ingin memiliki anak tanpa ayah (50%)

Sebaliknya, alasan-alasan ini hanya menunjukkan ketidak pedulian seorang wanita, yang hanya mementingkan dirinya sendiri (www.genetik2000.com).

Pertama-tama harus dideklarasikan bahwa aborsi bukanlah semata masalah medis atau kesehatan masyarakat, melainkan juga problem sosial yang terkait dengan paham kebebasan (freedom/liberalism) yang dianut suatu masyarakat. Paham asing ini tak diragukan lagi telah menjadi pintu masuk bagi merajalelanya kasus-kasus aborsi, dalam masyarakat mana pun. Data-data statistik yang ada telah membuktikannya.

Berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa aborsi memang merupakan problem sosial yang terkait dengan paham kebebasan (freedom/liberalism) yang lahir dari paham sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan (Abdul Qadim Zallum, 1998).

Terlepas dari masalah ini, hukum aborsi itu sendiri memang wajib dipahami dengan baik oleh kaum muslimin, baik kalangan medis maupun masyarakat umumnya. Sebab bagi seorang muslim, hukum-hukum Syariat Islam merupakan standar bagi seluruh perbuatannya. Selain itu keterikatan dengan hukum-hukum Syariat Islam adalah kewajiban seorang muslim sebagai konsekuensi keimanannya terhadap Islam. Allah SWT berfirman:
“Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai pemutus perkara yang mereka perselisihkan di antara mereka.” (QS. an-Nisaa` [4]: 65).

Maka dari itu, aborsi setelah kandungan berumur 4 bulan adalah haram, karena berarti membunuh makhluk yang sudah bernyawa. Dan ini termasuk dalam kategori pembunuhan yang keharamannya antara lain didasarkan pada dalil-dalil syar'i berikut. Firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan. Kami akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu.” (QS. al-An'am [6]: 151).

Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu” (QS. al-Isra` [17]: 31).

Ayat diatas mengharamkan aborsi ataupun membunuh anak sendiri dengan alasan kemiskinan, walau bagaimanapun ekonomi menghimpit tidak mengharuskan kia untuk mengaborsi ataupun membunuh anak-anak kita.

Berdasarkan dalil-dalil ini maka aborsi adalah haram pada kandungan yang bernyawa atau telah berumur 4 bulan, sebab dalam keadaan demikian berarti aborsi itu adalah suatu tindak kejahatan pembunuhan yang diharamkan Islam.

Aborsi bukan sekedar masalah medis atau kesehatan masyarakat, namun juga problem sosial yang muncul karena manusia mengekor pada peradaban Barat. Maka pemecahannya haruslah dilakukan secara komprehensif-fundamental-radikal, yang intinya adalah dengan mencabut sikap taqlid kepada peradaban Barat dengan menghancurkan segala nilai dan institusi peradaban Barat yang bertentangan dengan Islam, untuk kemudian digantikan dengan peradaban Islam yang manusiawi dan adil. Wallahu’alam bishawab.[]

Oleh : Rindy Tiana (Redaktur Nisaa' DK.COM)

LAST_UPDATED2
 
Dokter : Peduli Rakyat atau Peduli Pangsa Pasar PDF Cetak E-mail
Oleh redaksi   
Kamis, 07 Juni 2012 16:47

Di era korporasi (sejak tahun 2000), dimana pangsa pasar (terutama pasien berduit) bebas memilih layanan medis terbaik, tak pelak akan menempatkan profesi dokter sama dengan profesi lain yang siap diukur. Fakta bahwa bidang medis bak tambang emas (Curtis Schroeder) tidaklah berlebihan, sehingga sangat wajar banyak pihak berebut ikut berperan. Bahkan kalau bisa mereka berusaha menancapkan kuku pengaruhnya untuk ikut menarik keuntungan. Dan itu sudah terjadi di kota-kota besar (RS. Swasta).

Dengan makin terkikisnya era peran dokter sebagai deal & price maker, seorang dokter (yang ingin berpenghasilan layak) mau tidak mau harus siap berkompetisi, melamar kerja, dan keputusan diterima atau tidak, sepenuhnya ditentukan oleh pemberi kerja, dalam hal ini RS Swasta. Tentu perlu disadari pula bahwa pemilik modal (RS Swasta) akan mejatuhkan pilihannya pada dokter yang reputable, mengikuti perkembangan teknologi mutahir, dan yang diterima pasar tentunya. Dengan demikian, manakala seorang dokter sudah tidak mampu lagi menjaga konsistensinya (di mata pemilik modal), bersiaplah lengser untuk digantikan oleh dokter lain yang lebih dapat mendatangkan pasien. Di ranah ini, gelar panjang seorang dokter tak begitu penting lagi. Kunjungan pasien (isi dompet pasien) boleh jadi merupakan ukuran utama bagi pemilik modal. Karenanya, tak perlu heran jika makin banyak pemilik modal tangguh berkecimpung dalam ranah layanan medis dan menjadikannya sebagai bagian dari sebuah industri. Keuntungan dan uang yang bicara, Bung!!!

Dokter : Kerja Kemanusiaan atau Kapitalisasi Kesehatan

Profesi Dokter merupakan profesi yang sangat menjanjikan di karenakan profesi tersebut termasuk dalam bidang Kesehatan. Dan juga profesi ini dapat meningkatkan drajat atau status sosial kita di tengah masyarakat, ini seperti demikian dikarenakan untuk menjadi seorang Dokter kita harus menghabiskan uang tidak sedikit bahkan bisa sampai ratusan juta Rupiah di bangku kuliah, mengingat kebutuhan buku dan praktek laboratorium inilah yang menyebabkan biaya perkuliahan bisa sampai mengahabiskan begitu banyak dana.

Tapi sangat di sayangkan apabila profesi kemanusiaan ini telah mengalami distorsi makna yang sebenarnya, seyogianya Dokter adalah penolong manusia di saat sakit, tapi kini sebagian telah menyimpang dari hakikat sebenarnya seorang dokter. Kecendrungan hari ini selain ingin meningkatkan derajat sosialnya di mata masyarakat, sebagian Dokter pun kini berharap dari profesinya tersebut bisa mendapatkan keuntungan Financial yang menjanjikan, jadi tidak jarang seorang Dokter malah berharap pasien tiap harinya bertambah banyak, sehingga keuntungan tiap harinya bisa terakumulasi secara maksimal. Tentu kondisi demikian dapat merugikan masyarakat, apalagi dokter praktek swasta telah menjamur hampir di seluruh pelosok daerah. Kita memahami bahwa tarif Dokter swasta jauh lebih besar di bandingkan dengan Dokter Negeri. Cuma kecendrungan pelayanan dan fasilitas dari keduanya berbeda. Maka dapat kita temukan bahwa saat ini telah terjadi kapitalisasi kesehatan. Dengan kata lain orang miskin dilarang sakit.

Sebagai contoh yang pernah terjadi pada keluarga teman saya di medan, dari banyaknya kasus terjadi. Saat seorang bayi berusia beberapa bulan harus mendapatkan perobatan yang cepat karena kondisinya kritis, namun pihak RS akan baru melayani jika membayar uang muka terlebih dahulu sebesar 7 juta. Saat sang ibu menangis melihat kondisi anaknya, ketika selang masih menempel dihidung anaknya. Tapi justru uang jauh lebih tinggi dipandang daripada sebuah nilai kemanusiaan. Ironis.!

Dokter Peduli Rakyat Hanya Ada dalam Islam

Sistem kesehatan dalam Islam tersusun atas 3 (tiga) unsur sistem. Pertama: peraturan, baik peraturan berupa syariah Islam, kebijakan dalam promosi kesehatan (promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif) maupun peraturan teknis administratif. Kedua: sarana dan peralatan fisik seperti rumah sakit, alat-alat medis dan sarana prasarana kesehatan lainnya yang memadai dan terjangkau oleh masyarakat. Ketiga: SDM (sumber daya manusia) sebagai pelaksana sistem kesehatan yang meliputi dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya.

Dalam Islam, setiap masyarakat didorong untuk dibina pola pikir dan pola sikapnya yang pada dasarnya merupakan pembinaan kepribadian Islam. Dalam hal ini, keimanan yang kuat dan ketakwaan masyarakat menjadi landasan dalam bertindak. Islam sangat memberi perhatian pada masalah kebersihan, sanitasi, pola makanan halal yang menyehatkan, olahraga, dan fasilitas kesehatan. Tentu saja ini hanya bisa direalisasikan melalui negara, bukan hanya melibatkan di bagian kesehatan, tetapi juga di bagian pemerintahan lainnya.

Ketika masa pemerintahan Islam (Khilafah), pelayanan kesehatan gratis diberikan oleh negara yang dibiayai oleh kas Baitul Mal. Pelayanan kesehatan gratis saat itu berkualitas dan diberikan kepada semua rakyat tanpa diskriminasi agama, suku, warna kulit, dan sebagainya. Pelayanan kesehatan berkualitas hanya bisa direalisasikan jika didukung dengan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai serta sumber daya manusia yang profesional dan kompeten. Penyediaan semua itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban negara (Khilafah) karena negara berkewajiban menjamin pemenuhan kebutuhan dasar berupa kesehatan dan pengobatan.

Negara juga wajib mengadakan pabrik yang memproduksi peralatan medis dan obat-obatan; menyediakan SDM kesehatan baik dokter, apoteker, perawat, psikiater, penyuluh kesehatan dan lainnya. Semua pelayanan kesehatan dan pengobatan harus dikelola sesuai dengan aturan syariah termasuk pemisahan pria dan wanita serta hukum-hukum syariah lainnya. Dengan demikian, aturan Islam sudah memberi solusi bagi permasalahan kesehatan. Terbukti bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Kita pun dihadapkan pada 2 pilihan, apakah hanya berdiam diri saja dalam kesengsaraan ini ataukah bersegera dalam memperjuangkan Islam yang bisa menyejahterakan semua masyarakat?

Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya.  Contohnya, Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160M telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis.  Para sejarahwan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”

Hal ini teerjadi karena negara memahami bahwa tidak terpenuhi atau terjaminnya kesehatan dan pengobatan akan mendatangkan dharar bagi masyarakat. Dharar (kemadaratan) wajib dihilangkan.  Nabi bersabda:
Tidak boleh membahayakan orang lain dan diri sendiri (HR Malik).

Dengan demikian, kesehatan dan pengobatan merupakan kebutuhan dasar sekaligus hak rakyat dan menjadi kewajiban negara. WaLlahu a’lam bishawab .[]
Oleh: Rindyanti Septiana (Redaktur Nisaa’ DK.COM)

LAST_UPDATED2
 
Cantik Itu Tak (Bernilai) Relatif PDF Cetak E-mail
Oleh redaksi   
Selasa, 29 Mei 2012 23:25

Masih inget dengan pertanyaan seorang sahabat tetang yang disebut cantik gimana sich? Terus ada komentar dari temen-temen kalau cantik itu relatif tapi jelek itu mutlak. Nah sekarang saya coba bahas sedikit yah…nemu sebuah catatan dan langsung saya olah lagi… coba disimak sejenak. :)

Kawan, pernah dengar cantik itu relatif? Jika jawabannya iya, maka dikau tak salah mendengar. Karena yang sedang ditanyakan ini mengacu pada kecantikan fisik. Selain tak relatif, juga tak awet apalagi abadi. Dan yang jelas tak selalu menjamin karena cantik jadi menarik. Begitu banyak wanita cantik justru malah membosankan bahkan menyebalkan. Apalagi ditambah dengan pemahaman populer bahwa kecantikan hanya sedalam kulit. Lengkaplah sudah wajah acak-acakan si cantik kalau kita amati lebih mendalam.

Namun tahukah? Bahwa cantik sebenarnya juga tak mengenal kata relatif, dari sudut manapun dipandang dan ditanyakan kepada manusia yang manapun. Karena cantik yang ini mempunyai standar dan ukuran yang jelas. Cantik yang ini secara universal sering disebut dengan inner beauty. Dan inilah kecantikan yang sesungguhnya. Semakin didekati, wanita yang memiliki inner beauty justru semakin menarik, menarik dan menarik.

Namun sayang, tak selalu ini menjadi perhatian langsung oleh manusia. Mungkin memang begitu tabiat “cantik dalam”, hanya mampu menarik perhatian orang-orang yang tak suka dengan kesemuan semata. Sebab, memang begitu juga inner beauty memaknai dirinya, bahwa ia tidak semu dan menipu. Tak perlu tebar pesona pun, seorang wanita yang memiliki inner beauty sudah sangat mempesona.

Begitu banyak fakta yang mengunggulkan “cantik dalam” dari pada “cantik luar”, namun faktanya juga begitu banyak wanita justru lebih sibuk memperhatikan cantik fisik semata tanpa dibarengi dengan mempercantik pribadinya. Ah, wanita ternyata juga lebih suka dengan kesemuan dari pada yang hakiki dan abadi.

Memang benar, bahwa tak ada wanita yang menolak cantik fisik. Hanya saja, ketika penilaian kecantikan menjadi relatif, dan tak semua wanita dinilai memiliki kecantikan fisik, pun tak semua wanita merasa memiliki kecantikan fisik. Lalu pada titik ini, respon setiap wanita berbeda. Ada yang terobsesi untuk menjadi cantik dan tampil cantik dengan menggunakan berbagai produk kecantikan yang harganya justru termaknai dengan berlebihan dan memubadzirkan harta. Bahkan, ada yang rela harus operasi plastik segala. Dan merasa puas pada akhirnya karena pengorbanan dan perjuangannya tuk menjadi cantik tak sia-sia. Penilaian dan pujian ia dapatkan. Lalu, setelah semua itu, apa? Ternyata poinnya hanya mengejar penilaian dan pujian para manusia yang hanya makhlukNya.

Kalaupun toh ada yang membela diri, bawa ia mempercantik diri untuk dirinya sendiri, pujian hanya efek saja. Benarkah demikian dan harus sampai “segitunya” perjuangannya? Karena sesuatu yang dikatakan untuk diri sendiri adalah tujuannya untuk menjadikan diri lebih baik dan nyaman dengan kebaikan itu. Ya, baik dan nyaman. Bagaimana kalau justru saya nilai dari sudut pandang yang berbeda, bahwa dirinya tidak mensyukuri dengan apa yang dianugerahkan dan tidak percaya diri dengan tampil menjadi dirinya sendiri?
Mari kita tarik pembahasan pada kemuslimahan dan aturan-Nya.

Ketika dunia seisinya Allah swt ciptakan dengan dua hal berseberangan tuk saling menyeimbangkan dan melengkapi; miskin-kaya, tinggi-pendek, cantik-jelek dan lain sebagainya. Maka selayaknya sebagai seorang muslimah tak men-cacat, menghujat dan menghina apapun bentuk ciptaanNya yang tak bersesuaian dengan selera kita. Bukankah kita selalu diajarkan untuk mengambil ibrah (hikmah) dari apapun? Bukankah justru dengan meyakini Allah adalah maha pencipta seharusnya menjadi landasan kita untuk tetap bersyukur kepadaNya?

Jika sebagian dari kita merasa tak memiliki cantik fisik atau tak dinilai cantik dalam padangan manusia. Bukan berarti dunia kita menjadi suram. Hari-hari kita menjadi buram. Ah, seberapa pentingkah penilaian manusia kita maknai jika bandingannya dengan penilaian Allah swt? Bukan berarti kemudian kita tak boleh mempercantik diri dengan produk-produk kecantikan, tapi kita coba dudukkan kembali masalahnya agar tak salah mengambil sikap. Jangan sampai justru keinginan kita menjadi cantik hanya nafsu sesaat yang dilakukan dengan cara mengabaiakan apa yang disukaiNya dan apa yang tidak disukaiNya. Kemudian tanpa kita sadari keinginan itu berubah menjadi obsesi dan menajadikan kita kufur nikmat.

Jika tujuan mempercantik diri hanya untuk membuat manusia senang pada kita, manusia menyukai kita. Yakinlah kita sedang bermain pada wilayah kesemuan dan kita tak kan pernah mendapati ketulusan disana. Kemudian, Allah swt sang pemilik hati-hati kita, men-cabut ketenangan hati kita dengan ketidakjujuran yang kita lakukan kepada diri sendiri. Mau begitu, kawan? Kita lebih mengejar dan lebih memperhatikan kecantikan fisik yang semu, sementara dan relatif dinilai itu, berada dalam lingkungan yang hanya melihat kecantikan fisik kita, memaknai kita hanya sebatas bentuk materi semata.

Sementara pada sisi yang lain, ada kecantikan hakiki tak lekang zaman, yang predikat kecantikannya bisa dimiliki oleh siapapun. Kecantikan ini dimulai pembentukannya dari hati, berbahan dasar ketaatan dan mencakupkan akhlak baik dalam penyempurnaannya. Kecantikan asli yang tak memerlukan kamuflase apapun. Tak perlu dengan kecantikan ini repot-repot “action” menarik perhatian dan tebar pesona. Karena ia memiliki daya magnet bernama ketulusan. Dan cukup menjadi keyakinan kita, bahwa dengan kecantikan ini, akan mendatangkan kecintaanNya, yang kemudian diikuti oleh kecintaan seluruh penduduk bumi dan penduduk langit.

Kemudian, Allah swt menggelari kita dengan sebutan wanita shalihah, sebagai perhiasan terindah dunia. Yang pancaran kecantikannya dari pola pikir juga pola sikapnya sesuai syariat dan menjadi penilaian yang tidak relatif dalam pandangan siapapun. Sebab, kecantikan menurutNya adalah kecantikan dengan penilaian mutlak dan tolak ukur yang jelas. Dan sekali lagi, inilah cantik yang sesungguhnya, cantik yang tidak relatif. Wallahu'alam bishawab.[]

Oleh: Rindyanti Septiana (Admin Komunitas Muslimah Rindu Syariah & Khilafah)

LAST_UPDATED2
 
Dilema Intelektual Muslim PDF Cetak E-mail
Oleh redaksi   
Senin, 21 Mei 2012 17:42

Intelektual kerap dipasangkan oleh para penyandang pendidikan tinggi yang sangat diharapkan perannya dalam kemaslahatan umat manusia.  Senada dengan kaum cendikiawan yang sebahagian orang menyebutnya.

Antara kedua kata, intelektual dan cendikiawan hampir sama jika kita membuka kamus istilah. cendikiawan dapat diartikan sebagai orang cerdik dan pandai yang memiliki sikap hidup yang terus menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk mendapatkan pengetahuan atau memahami sesuatu.  Sedangkan intelektual memiliki arti yang tidak jauh berbeda dengan kata cendikiawan, yaitu orang cerdas, berakal dan berpikir jernih berdasarkan ilmu pengetahuan.  Perbedaan ini tidaklah menjadi masalah, karena hanya sebatas istilah, yang jelas substansi dari keduanya sama.

Kaum intelektual merupakan bagian dari masyarakat dan sebenarnya ia harus selaras, mampu memahami bagaimana kondisi dan kebutuhan masyarakat.  


Tugas dan Kewajiban Intelektual Muslim

Islam dan ilmu pengetahuan memiliki hubungan yang sangat erat.  Sebab, selain sebagai agama yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, Islam juga hadir sebagai sebuah peradaban, yakni peradaban yang dibangun berdasarkan ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh pandangan hidup Islam (Islamic worldview).

Intelektual harus mampu mewujudkan yang terbaik berupa pemikiran, ilmu pengetahuan dan pengembangan islam untuk kemaslahatan islam di kehidupan.

Dalam pandangan seorang cendikiawan muslim, Kuntowijoyo, kaum intelektual muslim paling tidak harus bisa berperan dalam dua hal: Pertama, dalam hal manajemen yang rasional; dan Kedua, membantu umat dalam perang gagasan, intellectual war. “Kita sedang menghadapi ‘perang’, ghazwul fikr atau intellectual aggression. ‘Musuh’ mereka ialah materialisme dan sekularisme dunia modern. Tugas intelektual Muslim ialah berjihad intelektual,” demikian Kunto pernah menganjurkan. Menurutnya, seorang intelektual adalah pewaris Nabi.  Karenanya seorang intelektual Muslim tidak boleh berpangku tangan, sementara dunia akan tenggelam.

Ibnu Khaldun mengatakan bahwa tanda wujudnya suatu peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti Fisika, Kimia, Geometri, Aritmatika, Astronomi, Optik, Kedokteran, dsb.  Bahkan, maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan.  Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibnu Khaldun adalah ilmu pengetahuan.

Dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, sudah banyak bukti yang menunjukkan hubungan Islam dan ilmu pengetahuan. Selain itu, banyak intelektual muslim yang hasil pemikirannya telah diakui oleh dunia.   Pengakuan adanya hubungan Islam dan ilmu penge-tahuan bukan hanya berasal dari kalangan Islam saja. Banyak ilmuwan non-muslim yang sudah mengakui bahwa Islam merupakan agama yang mendukung akan pengetahuan. Sumber utama petunjuk yang diakui kebenarannya adalah wahyu.

Dengan demikian, cikal bakal konsep ilmu pengetahu¬an dalam Islam pada hakikatnya adalah konsep-konsep kunci dalam wahyu yang ditafsirkan kedalam berbagai bidang kehidupan dan akhirnya berakumulasi dalam bentuk peradaban yang kokoh.

Kontribusi Intelektual Muslim yang Terlupakan

Sejarah Islam membuktikan banyaknya para cen¬dekiawan muslim yang telah memberikan kontribusi penting dalam pengembangan intelektual di percaturan ilmu pengetahuan dunia, yang tidak kalah dengan para ilmuan Barat. Pada abad pertengahan (masa keemasan Islam), hidup para pakar dan cendikiawan muslim seperti Ibnu Sina yang terkenal dengan bukunya, al-Qanun fi ath-Thib (the Canon) yang disebut-sebut sebagai inspirator utama kebangkitan Barat dalam ilmu kedokteran. Sampai sekarang pun keberadaan Avicenna (sebutan nama Ibnu Sina di Barat) masih fenomenal, bahkan dia diberi gelar sebagai bapak ilmu kedokteran.

Selain Ibnu Sina, masih banyak ilmuwan muslim lainnya yang memberi kontribusi penting terhadap ilmu pengetahuan, antara lain al-Biruni (penyusun kitab al-Atsar al-Baqiah yang merupakan kitab pertama di dunia yang meneliti tentang sejarah, perbedaan bulan, tahun, penanggalan, sebab dan cara istinbathnya), Ibnu Khaldun (Bapak Sosiologi Politik), Jabir bin Hayyan sebagai penemu Ilmu Kimia, Ibnu Zuhr (Bapak Parasitologi dan Pelopor Tracheotomi), Ibnu Majid penemu Kompas dan Navigator, Al-Khawarizmi (Bapak Aljabar dan Geografi), Abu az-Zahrawi (Bapak bedah, penemu Hemofilia), Ibnu Haitam (penemu Teknik Fotografi, Optik dan Energy Solar), Ibnu Rusyd (Perintis Ilmu Jaringan Tubuh), Ibnu Nafis (penemu peredaran darah paru-paru), Ar-Razi (Rhazes) seorang dokter pertama bidang Psikosomatis atau gangguan emosi dan mental, Jamsyid Ghiatsuddin al-Kasyri (pakar dalam bidang Matematika dan Astronomi), As-Simay adalah seorang yang ahli dalam bidang Biologi dan pengarang Kitab an-Nabati wa asy-Syujjar, dan lain-lain.

Pada tahun 245 H. di kota Fez, Maroko, dibangun masjid besar yang tak hanya menjadi tempat ibadah tetapi menjadi tempat menuntut ilmu yang dihadiri mahasiswa dari banyak negara. Tak hanya belajar Tafsir, Hadits dan Fiqh tetapi juga Matematika, Astronomi dan Geografi. Masjid tersebut akhirnya terkenal sebagai Universitas al-Qairawan (al-Karaouiyinne), universitas pertama yang mengadakan studi ilmu dari berbagai bidang, bahkan universitas tersebut merupakan universitas pertama kali didirikan dalam sejarah peradaban dunia.

Al-Karaouiyinne ini telah berhasil mencetak banyak intelektual Barat. Catatan sejarah menunjukkan sepuluh mahasiswa non muslim menjadi alumni universitas tersebut. Salah satunya adalah Galbart, seorang pastur yang akhirnya menjadi Paus Silvester II. Dialah orang yang pertama kali memasukkan angka Arab ke Eropa dan menerjemahkan setiap ilmu yang ditulis umat Islam. Dia juga yang mensponsori Amandemen Undang-Undang Romawi dan disesuaikan dengan syariat Islam.

Pusat peradaban Islam lain yang terkenal adalah Andalusia (Spanyol). Andalusia banyak melahirkan ilmuan muslim baik dalam bidang ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Sebelum bangsa Eropa me¬miliki universitas, di Andalusia sudah banyak berdiri universitas-universitas, seperti Cordova, Seville dan Gra¬nada, bahkan orang Eropa banyak sekali yang me¬nuntut ilmu di sana.

Puncak kemajuan ilmu pengetahuan dalam Islam adalah pada masa pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid dan putranya al-Ma’mun dari Khilafah Abbasiyah di Baghdad. Pada masa itulah pertama kalinya berdiri Baitul Hikmah (Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Riset).

Kalau sekarang murid-murid Sekolah Menengah Pertama ditanya, siapakah penemu peredaran darah? Mereka akan menjawab William Harvey. Atau, siapa penemu mesin uap? Mereka akan menjawab James Watt.   Sebenarnya, pada saat orang Eropa menganggap penyakit Herpes merupakan sebuah kutukan dari Iblis, orang Islam sudah menemukan obatnya. Kita juga ingat dalam sejarah ketika terjadi perang salib, banyak tentara Romawi yang kagum dengan kompas yang dibuat oleh para mujahid Islam yang dipimpin oleh Sultan Shalahuddin.  Jadi pada waktu bangsa Eropa masih dalam kondisi jahiliyah atau berada dalam masa kegelapan, orang Islam sudah memiliki peradaban yang begitu tinggi.

Namun kini di mana masa keemasan dan kejayaan Islam dalam ilmu pengetahuan tersebut? Mengapa dunia Islam sekarang ini sangat mundur bahkan terpuruk dalam segala bidang kehidupan, termasuk sains?
Keadaan yang menghawatirkan ini merupakan akibat langsung dari umat Islam yang meninggalkan agamanya dalam mengatur seluruh aspek kehidupan dan pola pikirnya  Eropa Centris, sebagai akibat dari pengaruh westernisasi dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga kita lupa akan nilai-nilai dan jati diri sebagai seorang muslim.

 

Kondisi Intelektual Muslim Hari ini

Banyak para intelektual yang seharusnya mampu memecahkan berbagai persolan hidup, hari ini sudah menjadi para intelektual, yang antara dirinya dengan masyarakatnya adalah terpisah.  Mereka tidak memahami apa sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat.  Kini para intelektual muslim banyak yang dengan  leluasa membiarkan dirinya terpenuhi oleh pemikiran – pemikiran barat yang menyesatkan dan menjatuhkan martabat manusia.

Hari ini di seluruh dunia diterapkan sistem kapitalisme yang berlandaskan  sekularisme dalam memandang hidup ini.  Sistem kapitalistime telah menghancurkan peran utama para intelektual dan menjatuhkan kedudukannya, yang hanya sekedar sebagai agen ekonomi yang memperkuat bercokolnya para kapitalis, buktinya dalam kondisi saat ini para intelektual justru dipersiapkan untuk mempersiapkan UU yang melegitimasi sepak terjang para kapitalis untuk merampok kekayaan alam seperti UU penanaman modal, UU migas, UU ketenagalistrikan, UU sumberdaya air.  Semuanya hasil karya para intelektual pesanan para kapitalis paparnya.

Beginilah hari ini kondisi para intelektual yang terpisahkan dengan masyarakat yang butuh pengayoman, butuh pencerdasan, butuh pembimbing, butuh ilmu, dan butuh untuk menjalankan kehidupan ini dengan benar yaitu sesuai dengan fitrahnya sebagai hamba yang telah diamanahi menjadi pemimpin dan pengelola bumi untuk semakin meningkatkan keimanan dan ketakwaannya pada Allah SWT.

 

Solusi untuk Para Intelektual Muslim

Diharapkan para intelektual muslim sadar dan bersegera untuk meninggalkan kapitalisme-sekulerisme dan terus menerus melakukan upaya dekonstruksi terhadap ideologi kapitalisme-sekulerisme di tengah-tengah masyarakat, karena telah nyata bahwa kapitalisme telah gagal membawa Indonesia menjadi negara yang mandiri, kuat dan terdepan.

Inspirasi bagi kita,  umat muslim, untuk kembali mewujudkan kejayaan Islam di masa sekarang dan mendatang. Bukan malah menjadikan kita terpukau dan terbuai oleh zaman keemasan peradaban Islam atau bahkan melupakannya.  Adanya citra negatif yang saat ini sedang melekat pada umat Islam, harus kita jawab melalui kerja keras dan kontribusi kita terhadap kemajuan umat. Maju bersama untuk Mengembalikan Kehidupan penuh Berkah dalam Naungan Islam yang Mampu Melahirkan Intelektual atau Cendikiawan yang Bermental Islam.  Allahuakbar!!

Wallahu’alam bishshawab

Oleh : Rindy Tiana (Senada Medan)

LAST_UPDATED2
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 18
Template designed by: kafi