|
Intelektual kerap dipasangkan oleh para penyandang pendidikan tinggi yang sangat diharapkan perannya dalam kemaslahatan umat manusia. Senada dengan kaum cendikiawan yang sebahagian orang menyebutnya.
Antara kedua kata, intelektual dan cendikiawan hampir sama jika kita membuka kamus istilah. cendikiawan dapat diartikan sebagai orang cerdik dan pandai yang memiliki sikap hidup yang terus menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk mendapatkan pengetahuan atau memahami sesuatu. Sedangkan intelektual memiliki arti yang tidak jauh berbeda dengan kata cendikiawan, yaitu orang cerdas, berakal dan berpikir jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Perbedaan ini tidaklah menjadi masalah, karena hanya sebatas istilah, yang jelas substansi dari keduanya sama.
Kaum intelektual merupakan bagian dari masyarakat dan sebenarnya ia harus selaras, mampu memahami bagaimana kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Tugas dan Kewajiban Intelektual Muslim
Islam dan ilmu pengetahuan memiliki hubungan yang sangat erat. Sebab, selain sebagai agama yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, Islam juga hadir sebagai sebuah peradaban, yakni peradaban yang dibangun berdasarkan ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh pandangan hidup Islam (Islamic worldview).
Intelektual harus mampu mewujudkan yang terbaik berupa pemikiran, ilmu pengetahuan dan pengembangan islam untuk kemaslahatan islam di kehidupan.
Dalam pandangan seorang cendikiawan muslim, Kuntowijoyo, kaum intelektual muslim paling tidak harus bisa berperan dalam dua hal: Pertama, dalam hal manajemen yang rasional; dan Kedua, membantu umat dalam perang gagasan, intellectual war. “Kita sedang menghadapi ‘perang’, ghazwul fikr atau intellectual aggression. ‘Musuh’ mereka ialah materialisme dan sekularisme dunia modern. Tugas intelektual Muslim ialah berjihad intelektual,” demikian Kunto pernah menganjurkan. Menurutnya, seorang intelektual adalah pewaris Nabi. Karenanya seorang intelektual Muslim tidak boleh berpangku tangan, sementara dunia akan tenggelam.
Ibnu Khaldun mengatakan bahwa tanda wujudnya suatu peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti Fisika, Kimia, Geometri, Aritmatika, Astronomi, Optik, Kedokteran, dsb. Bahkan, maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibnu Khaldun adalah ilmu pengetahuan.
Dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, sudah banyak bukti yang menunjukkan hubungan Islam dan ilmu pengetahuan. Selain itu, banyak intelektual muslim yang hasil pemikirannya telah diakui oleh dunia. Pengakuan adanya hubungan Islam dan ilmu penge-tahuan bukan hanya berasal dari kalangan Islam saja. Banyak ilmuwan non-muslim yang sudah mengakui bahwa Islam merupakan agama yang mendukung akan pengetahuan. Sumber utama petunjuk yang diakui kebenarannya adalah wahyu.
Dengan demikian, cikal bakal konsep ilmu pengetahu¬an dalam Islam pada hakikatnya adalah konsep-konsep kunci dalam wahyu yang ditafsirkan kedalam berbagai bidang kehidupan dan akhirnya berakumulasi dalam bentuk peradaban yang kokoh.
Kontribusi Intelektual Muslim yang Terlupakan
Sejarah Islam membuktikan banyaknya para cen¬dekiawan muslim yang telah memberikan kontribusi penting dalam pengembangan intelektual di percaturan ilmu pengetahuan dunia, yang tidak kalah dengan para ilmuan Barat. Pada abad pertengahan (masa keemasan Islam), hidup para pakar dan cendikiawan muslim seperti Ibnu Sina yang terkenal dengan bukunya, al-Qanun fi ath-Thib (the Canon) yang disebut-sebut sebagai inspirator utama kebangkitan Barat dalam ilmu kedokteran. Sampai sekarang pun keberadaan Avicenna (sebutan nama Ibnu Sina di Barat) masih fenomenal, bahkan dia diberi gelar sebagai bapak ilmu kedokteran.
Selain Ibnu Sina, masih banyak ilmuwan muslim lainnya yang memberi kontribusi penting terhadap ilmu pengetahuan, antara lain al-Biruni (penyusun kitab al-Atsar al-Baqiah yang merupakan kitab pertama di dunia yang meneliti tentang sejarah, perbedaan bulan, tahun, penanggalan, sebab dan cara istinbathnya), Ibnu Khaldun (Bapak Sosiologi Politik), Jabir bin Hayyan sebagai penemu Ilmu Kimia, Ibnu Zuhr (Bapak Parasitologi dan Pelopor Tracheotomi), Ibnu Majid penemu Kompas dan Navigator, Al-Khawarizmi (Bapak Aljabar dan Geografi), Abu az-Zahrawi (Bapak bedah, penemu Hemofilia), Ibnu Haitam (penemu Teknik Fotografi, Optik dan Energy Solar), Ibnu Rusyd (Perintis Ilmu Jaringan Tubuh), Ibnu Nafis (penemu peredaran darah paru-paru), Ar-Razi (Rhazes) seorang dokter pertama bidang Psikosomatis atau gangguan emosi dan mental, Jamsyid Ghiatsuddin al-Kasyri (pakar dalam bidang Matematika dan Astronomi), As-Simay adalah seorang yang ahli dalam bidang Biologi dan pengarang Kitab an-Nabati wa asy-Syujjar, dan lain-lain.
Pada tahun 245 H. di kota Fez, Maroko, dibangun masjid besar yang tak hanya menjadi tempat ibadah tetapi menjadi tempat menuntut ilmu yang dihadiri mahasiswa dari banyak negara. Tak hanya belajar Tafsir, Hadits dan Fiqh tetapi juga Matematika, Astronomi dan Geografi. Masjid tersebut akhirnya terkenal sebagai Universitas al-Qairawan (al-Karaouiyinne), universitas pertama yang mengadakan studi ilmu dari berbagai bidang, bahkan universitas tersebut merupakan universitas pertama kali didirikan dalam sejarah peradaban dunia.
Al-Karaouiyinne ini telah berhasil mencetak banyak intelektual Barat. Catatan sejarah menunjukkan sepuluh mahasiswa non muslim menjadi alumni universitas tersebut. Salah satunya adalah Galbart, seorang pastur yang akhirnya menjadi Paus Silvester II. Dialah orang yang pertama kali memasukkan angka Arab ke Eropa dan menerjemahkan setiap ilmu yang ditulis umat Islam. Dia juga yang mensponsori Amandemen Undang-Undang Romawi dan disesuaikan dengan syariat Islam.
Pusat peradaban Islam lain yang terkenal adalah Andalusia (Spanyol). Andalusia banyak melahirkan ilmuan muslim baik dalam bidang ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Sebelum bangsa Eropa me¬miliki universitas, di Andalusia sudah banyak berdiri universitas-universitas, seperti Cordova, Seville dan Gra¬nada, bahkan orang Eropa banyak sekali yang me¬nuntut ilmu di sana.
Puncak kemajuan ilmu pengetahuan dalam Islam adalah pada masa pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid dan putranya al-Ma’mun dari Khilafah Abbasiyah di Baghdad. Pada masa itulah pertama kalinya berdiri Baitul Hikmah (Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Riset).
Kalau sekarang murid-murid Sekolah Menengah Pertama ditanya, siapakah penemu peredaran darah? Mereka akan menjawab William Harvey. Atau, siapa penemu mesin uap? Mereka akan menjawab James Watt. Sebenarnya, pada saat orang Eropa menganggap penyakit Herpes merupakan sebuah kutukan dari Iblis, orang Islam sudah menemukan obatnya. Kita juga ingat dalam sejarah ketika terjadi perang salib, banyak tentara Romawi yang kagum dengan kompas yang dibuat oleh para mujahid Islam yang dipimpin oleh Sultan Shalahuddin. Jadi pada waktu bangsa Eropa masih dalam kondisi jahiliyah atau berada dalam masa kegelapan, orang Islam sudah memiliki peradaban yang begitu tinggi.
Namun kini di mana masa keemasan dan kejayaan Islam dalam ilmu pengetahuan tersebut? Mengapa dunia Islam sekarang ini sangat mundur bahkan terpuruk dalam segala bidang kehidupan, termasuk sains? Keadaan yang menghawatirkan ini merupakan akibat langsung dari umat Islam yang meninggalkan agamanya dalam mengatur seluruh aspek kehidupan dan pola pikirnya Eropa Centris, sebagai akibat dari pengaruh westernisasi dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga kita lupa akan nilai-nilai dan jati diri sebagai seorang muslim.
Kondisi Intelektual Muslim Hari ini
Banyak para intelektual yang seharusnya mampu memecahkan berbagai persolan hidup, hari ini sudah menjadi para intelektual, yang antara dirinya dengan masyarakatnya adalah terpisah. Mereka tidak memahami apa sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat. Kini para intelektual muslim banyak yang dengan leluasa membiarkan dirinya terpenuhi oleh pemikiran – pemikiran barat yang menyesatkan dan menjatuhkan martabat manusia.
Hari ini di seluruh dunia diterapkan sistem kapitalisme yang berlandaskan sekularisme dalam memandang hidup ini. Sistem kapitalistime telah menghancurkan peran utama para intelektual dan menjatuhkan kedudukannya, yang hanya sekedar sebagai agen ekonomi yang memperkuat bercokolnya para kapitalis, buktinya dalam kondisi saat ini para intelektual justru dipersiapkan untuk mempersiapkan UU yang melegitimasi sepak terjang para kapitalis untuk merampok kekayaan alam seperti UU penanaman modal, UU migas, UU ketenagalistrikan, UU sumberdaya air. Semuanya hasil karya para intelektual pesanan para kapitalis paparnya.
Beginilah hari ini kondisi para intelektual yang terpisahkan dengan masyarakat yang butuh pengayoman, butuh pencerdasan, butuh pembimbing, butuh ilmu, dan butuh untuk menjalankan kehidupan ini dengan benar yaitu sesuai dengan fitrahnya sebagai hamba yang telah diamanahi menjadi pemimpin dan pengelola bumi untuk semakin meningkatkan keimanan dan ketakwaannya pada Allah SWT.
Solusi untuk Para Intelektual Muslim
Diharapkan para intelektual muslim sadar dan bersegera untuk meninggalkan kapitalisme-sekulerisme dan terus menerus melakukan upaya dekonstruksi terhadap ideologi kapitalisme-sekulerisme di tengah-tengah masyarakat, karena telah nyata bahwa kapitalisme telah gagal membawa Indonesia menjadi negara yang mandiri, kuat dan terdepan.
Inspirasi bagi kita, umat muslim, untuk kembali mewujudkan kejayaan Islam di masa sekarang dan mendatang. Bukan malah menjadikan kita terpukau dan terbuai oleh zaman keemasan peradaban Islam atau bahkan melupakannya. Adanya citra negatif yang saat ini sedang melekat pada umat Islam, harus kita jawab melalui kerja keras dan kontribusi kita terhadap kemajuan umat. Maju bersama untuk Mengembalikan Kehidupan penuh Berkah dalam Naungan Islam yang Mampu Melahirkan Intelektual atau Cendikiawan yang Bermental Islam. Allahuakbar!!
Wallahu’alam bishshawab
Oleh : Rindy Tiana (Senada Medan)
|