Kado Spesial di Bulan Yang Katanya ‘Merah Jambu’ PDF Cetak E-mail
Oleh redaksi   
Minggu, 20 Februari 2011 11:37

Pertanyaan    :

Sekarang sudah memasuki bulan Februari, biasanya setiap tahun saya selalu mempersiapkan cokelat buatan sendiri untuk dihadiahkan kepada teman, saudara, dan keluarga dekat. Bagi saya bulan Februari adalah bulan “kasih sayang”. Ada seorang teman saya yang menyampaikan bahwa merayakan V-day itu diharamkan dalam islam. Tapi kan saya hanya betukar kado dengan teman sesama perempuan dan keluarga dekat, bukan dengan teman lelaki atau kekasih. Saya pikir memaknai Februari sebagai bulan kasih sayang tidak ada salahnya, karena dalam islam kasih sayang terhadap saudara sesama muslim dengan memberi kado itu diperbolehkan. Bagaimana hukum yang sebenarnya dan bagaimana saya harus bersikap dalam menyambut Februari?


Mesa Jumipa
Teknik dan Manajemen Lingkungan
Diploma IPB

Jawaban    :

Bulan februari, bagi sebagian kalangan, khususnya remaja, biasa menyebutnya sebagai bulan “merah jambu”. Bagi saya pribadi tidak ada yang istimewa pada bulan februari ini. Tapi ada sesuatu yang berbeda dengan kondisi lingkungan di sekitar saya, terutama kampus. Kalau kita jeli, di dekat gerbang masuk kampus mendadak banyak yang menjual bunga mawar dihias pita warna-warni. Gak cukup sampai disana, beberapa teman perempuan sudah mulai heboh membicarakan cokelat dan beberapa agenda mulai dari acara jalan bareng pacar masing-masing sampai pesta meriah untuk merayakan V-day. Weleh... weleh... segitunya.

Tapi jangan salah, gak sedikit juga yang ogah-ogahan menyambut V-day alias gak tertarik tapi ajang tuker kado selalu dinanti. Heehe, jadi intinya mah mau kadonya doank. Tapi kalo dipikir-pikir kenapa sih teman-teman kita selalu bergembira menyambut tanggal 14 Februari? Ada apa sebenarnya? Sejak kapan ritual tersebut menjamur di kalangan remaja negeri kita bahkan para generasi muda muslim.
Bagaimana islam menjawab fakta ini ya? Memang sih untuk mengetahui jawabannya boleh atau tidak walau hanya sebatas tukar kado, tetap kita harus mencari tahunya secara keseluruhan. Hayuu kita kupas bareng-bareng!


Sejarah Perayaan V-Day

Pembahasan mengenai perayaan V-day bukan suatu hal yang baru buat kita semua. Sudah banyak sumber dan literature yang membahas tentang hal ini. Namum pembahasan kali ini akan lebih dispesifikkan pada aktivitas bertukar kado dan ungkapan kasih sayang dalam pandangan islam yang banyak disalahtafsirkan.

Berdasarkan beberapa literatur ilmiah yang membahas mengenai sejarah V-day, menunjukkan bahwa perayaan itu bagian dari simbol agama Nasrani yang disadur oleh Paus Gelasius I tahun 496 dari upacara ritual agama Romawi kuno. Dalam The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, dijelaskan : “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari”.

Sumber lain datang dari Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan istilah “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata tersebut ditujukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi.

Ritual yang menjamur di kalangan remaja saat merayakan V-day mereka suka mengucapkan “to be my Valentine?”, bener gak? melihat istilah di atas, berarti sama ajah dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”, alias kita menyekutukan Allah dengan manusia.

Ada lagi neh yang suka salah ditafsirkan oleh sebagaian dari kita. Tau Si “Cupid ” gak? malaikat kecil bersayap yang suka bawa panah cinta itu lho... dan ternyata dia itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari. Dia disebut tuhan cinta, karena ia guanteeeng (katanya sih), sehingga diburu banyak cewek-cewek bahkan ia sendiri telah berzina dengan ibu kandungnya.


Hukum merayakan V-day dalam islam

Setelah menelusuri asal muasal perayaan V-day harusnya kita menjadi mahfum (paham) bahwa perayaan tersebut datangnya bukan dari islam dan sangat bertentangan dengan ajarand an akidah islam.  Seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis dari Romawi kuno.

“Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.

Rasulullah SAW telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, ”Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut” (HR. At-Tirmidzi). Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga berkata, ”Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut HARAM“.
Beberapa alasan diharamkannya V-day seperti yang diungkapkan oleh Syaikh Muhammad al-Utsaimin diantaranya karena : V-day merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam; dan V-day dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita). Banyak contoh di sekitar kita untuk menggambarkan kondisi tersebut. Remaja muslim tidak sedikit yang mengatakan “saya tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine secara khusus memberikan makna cinta tersendiri bagi kehidupan saya”. Mungkin serupa dengan maksud saudari Mesa, bahwa merayakan V-day sebagai ungkapan kasih sayang terhadap keluarga, teman, atau saudara.
Islam memang menganjurkan untuk saling mengasihi terhadap sesama muslim, bahkan orang tua dan keluarga tentunya. Tetapi setiap aktivitas kita harus dikembalikan pada hukum syara’, apakah halal ataukah haram cara yang kita gunakan untuk mengungkapkan rasa kasih kita? Jika ungkapan kasih saying itu dilakukan pada hari-hari khusus seperti 14 Februari, sudah jelas keharamannya karena sudah menyangkut keyakinan atau aktivitas yang dimiliki umat lain. Selain itu kasih saying dalam islam adalah sepanjang masa, tidak ditentukan pada hari khusus atau dengan perayaan tertentu.


Bertukar Kado dalam Islam?
Valentine ajang bertukar kado? Yah tidak saya pungkiri, mendapat kado atau hadiah adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Apalagi kalau kado itu datangnya dari orang yang kita sayangi seperti ibu, ayah, saudara, ataupun teman. Baiklah hayu kita cari tahu bagaimana islam memandang hal ini?
Berdasar beberapa sumber, hadiah adalah pemberian seseorang secara kontan tanpa ada syarat dan balasan. Memberi hadiah kepada seseorang karena memang kita ikhlas dan hendak menjaga silaturrahmi, justru hal tersebut sangat dianjurkan dalam islam. “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencinta” (HR Bukhari).

Tapi pemberian hadiah atau kado ini bisa menjadi haram karena bebarapa hal. Jika pemberian hadiah tersebut ada syaratnya atau ada maksud duniawi di baliknya, bisa termasuk dalam kategori suap (riswah) yang diharamkan dalam Islam. “Rasulullah Saw melaknat yang memberi suap dan yang menerima suap” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim, da Ahmad).

Ok, sekarang sudah jelas kan? Memberi hadiah itu halal kalau dilakukan dengan ikhlas. Ada tapinya lagi, mendadak hadiah tersebut juga bisa menjadi haram jika pemberiannya dikhususkan pada hari-hari atau perayaan tertentu seperti menyambut V-day. Jika merayakan V-day di haramkan, otomatis segala aktivitas dalam perayaannya juga menjadi haram untuk kita ikuti. Jadi, boleh bertukar kado tapi harus meluruskan kembali niatnya dan tidak dikhusukan pada hari tertentu.


Sikap Menyambut Februari

Valentine’s Day di masa sekarang ini banyak disalah tafsirkan oleh generasi muda kita. Meskipun sudah menyandang gelar sebagai intelektual (harusnya smart) dalam memliih setiap aktivitas, eh tetep ajah gampang terjerat dengan budaya “ngekor” kayak gini.

V-day di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Liat ajah di sekitar kita, V-day menjadi ajang untuk berpesta, kencan, bertukar hadiah dengan tujuan tertentu (mencari pacar), hingga berujung pada perbuatan zina dan semua itu dilakukan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Lantas kenapa hingga akhirnya generasi muda kita banyak yang meng-copy kebudayaan atau kebiasaan orang-orang barat tanpa memikirkan lagi apakah halal atau kah haram dalam islam? Entah kita sadari atau tidak, semua ini sebagai akibat dari gaya hidup sekuler (pemisahan agama dari kehidupan). Sikap bijak sebagai seorang intelektual muslim adalah selektif dan kritis dalam memilih setiap aktivitas. Benar dan salah hanya disandarkan pada hukum syara, bukan perspektif manusia.


Oleh : Tias

 

Add comment

Security code
Refresh

Template designed by: kafi