Walisongo dan Indonesia adalah sebuah fakta yang tak terurai, terpisahkan. Masuk dan menyebarnya Islam di Indonesia terutama di tanah Jawa tak akan bisa dilepaskan dari peran besar Walisongo. Sebuah peradaban Islam yang agung berhasil menggantikan dominasi Hindu-Budha di nusantara melalui perjuangan mereka.
Penyebaran Islam yang dilakukan oleh para wali Allah ini tak menyebarkan agama Islam dengan segala aturannya. Mereka juga merupakan penggerak. Mereka adalah perubah yang merupakan tokoh-tokoh intelektual Islam. Yang tentunya memiliki pengaruh besar dalam kemajuan berfikir masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Mereka mengajarkan kesehatan, bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan dan keseniaan, dan tak ketinggalan kemasyarakatan, pemerintahan dengan sosial ekonomi dan politiknya.
Peradaban baru yang dibawa oleh walisongo tentunya tak lepas dari pengetahuan mereka tentang agama Islam sendiri. Mereka meyakini bahwa Islam adalah agama yang sempurna, yang memiliki aturan lengkap tentang hubungan manusia dengan Ilahi dan juga hubungan manusia dengan sesamanya di dunia. Sehingga segala hal yang mereka lakukan, berdasar pada aturan Allah dan Rasulullah.
Hal inilah yang saat ini masih sering terkaburkan. Masyarakat seringkali memandang bahwa Islam yang dibawa oleh walisongo adalah Islam tradisional kuno, yang lekat dengan jawa-nya, dan berbau pemujaan semata. Hal ini tentu sangat salah dan merusak pemikiran umat Islam sendiri.
Walisongo adalah tonggak perubah masyarakat jahiliyah di Indonesia. Saat masyarakat Indonesia menjadi manusia-manusia yang terkebelakang dari segi pemikirannya, Islam datang melalui tangan-tangan wali Allah ini.
Sejarah tentang walisongo saat ini memang terlihat menggiring umat Islam untuk sekedar mengetahui bahwa Islam masuk ke Indonesia, salah satunya karena peran mereka. Umat Islam dipandu untuk sekedar mengenal bahwa walisongo adalah tokoh-tokoh Islam yang mencintai seni dan kesusastraan saja. Inilah proses pembodohan. Misalnya, umat Islam tak pernah tahu bahwa pemerintahan yang diajarkan oleh walisongo adalah pemerintahan yang menerapkan aturan Allah. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang penting untuk generasi penerus Islam agar mereka menjadi penggerak sekaligus perubah dalam masyarakat untuk hanya menggunakan Islam sebagai satu-satunya aturan. Tapi ternyata, mereka hanya mengagumi betapa Islam itu terkenal dengan karya-karyanya. Masjid yang indah, kaligrafi yang indah, dan lain-lain.
Bukan berarti kegemilangan yang dicapai oleh walisongo itu tak bermakna. Memang sangat berarti karena menjadi bukti tentang tingginya taraf berpikir umat Islam kala itu. Tapi jangan sampai kita hanya mengenal itu. Kegemilangan yang dicapai oleh walisongo tentunya tak terlepas dari dasar hidup yang mereka pegang dan mereka ajarkan. Yakni Islam.
Hal yang tak kalah penting adalah walisongo berperan besar membentuk peradaban Islam yang agung melalui perubahan berpikir masyarakat Indonesia kala itu. Umat Islam memperoleh pendidikan melalui pesantren. Di sana mereka menempa diri dengan ilmu-ilmu agama yang tentunya akan menguatkan aqidah mereka, menguatkan dasar keimanan mereka. Di sana pula lah mereka memulai untuk berdakwah. Sehingga bagi walisongo, pendidikan agama tak terlepas dari proses dakwah. Hal ini tentu bertolak belakang dengan kenyataan saat ini. Zaman sekarang, pandangan yang bergulir adalah alim ulama, para kyai, dan para ustadz lah yang harus berdakwah. Bukan umat Islam sebagaimana yang diajarkan oleh walisongo dahulu bahwa setiap orang harus berdakwah dan menyebarkan agama Islam.
Ini adalah bukti lain kemunduran berpikir umat Islam sekarang. Sistem kufur yang mendominasi saat ini telah menjadikan umat Islam buta tentang kewajibannya, mereka lebih senang berkubang dalam kesibukan mencari uang dan kemuliaan di dunia meskipun hal tersebut malah menghinakan mereka. Lalu melupakan kewajiban mereka sebagai hamba Allah untuk mendakwahkan agama Islam.
Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari perjuangan walisongo dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia. Namun, banyak dari kita yang terlupa dan hanya sedikit orang saja yang mau memahami esensi dari proses perjuangan itu. (Oleh Arini, Staf Opini dan Syiar – Departemen Keputrian BKIM IPB)




