Dakwahkampus.com

10 September 2010
-->

Politik Gincunya Partai

E-mail Cetak PDF

Dalam 3 bulan terakhir kita disuguhi banyak munas partai ‘besar’. Tidak perlulah saya sebutkan partai apa saja itu. banyak kog beritanya. Dari tiga partai besar yang mengadakan agenda munas tersebut di tempat mewah yang berbeda-beda, saya menarik satu kesimpulan yang sama, yakni penguatan institusi dan pencitraan partai. Kedua hal ini, merujuk pada satu tujuan yang sama pula , yakni memperoleh posisi tiga besar bahkan memenangkan pemilu 2014.

Beginilah kalau hidup di alam demokrasi. Demokrasi yang prosedural. Indikator keberhasilan sebuah partai ’hanya’ diukur oleh jumlah suara. Jadilah momen lima tahun sekali dijadikan ajang partai untuk ’turun ke jalan’ ‘mengayomi’ masyarakat. Bukan hanya itu, berbagai macam cara pun dilakukan demi satu tujuan, PEROLEHAN SUARA. Dua kata ini ternyata bisa membutakan para pengurus partai beserta para anggotanya. Jangan salah, anda bisa menemukan partai yang tadinya idealis sekali pada awalnya, namun bergeser menjadi pragmatis pada akhirnya. Jika ada partai yang tadinya ’mengaku’ eksklusif, kini sudah tak malu-malu lagi menyatakan keterbukaannya.

Berbagai dagelan politik yang bersembunyi di balik kata ‘pembenahan’ pun dilancarkan. Pendekar-pendekar partai(baca:politisi) berubah haluan, terjerembab ke lembah nihilisasi substansi dan memainkan politik etalase. Politik gincu kemudian menjadi keniscayaan. Nyeleneh memang. tapi apa mau dikata, beginilah alam demokrasi, politik gincu. Pencitraan, pembentukan identitas , atau apapun namanya, menjadi harga mati tanpa memperdulikan lagi idealisme.

Politik gincu dalam hal ini, sangat membutuhkan popularitas demi memperoleh suara. Popularitas adalah faktor krusial bagi sebuah partai untuk masuk kedunia politik dalam sistem demokrasi. Untuk menjamin tingkat elektabilitas, partai harus terlebih dahulu dikenal, untuk kemudian disukai dan pada akhirnya dipilih. Ini yang saya katakan bahwa Politik gincu memang selalu identik dengan upaya pecitraan politik.

Kalau yang saya dapatkan dari ’profesor’ saya, Syekh Taqiyuddin An-Nabhani –semoga Allah merahmati beliau– di buku at Takattul al Hizby (Pembentukan partai politik) , Justru ideologi partailah (baca:idealisme yang benar), dengan pemikiran dan metodenya, yang akan menjadi ruh bagi bangunan partai tersebut. Para kader partai yang sudah terinternalisasi ideologi partai , justru akan menjadi motor menggerak yang sangat canggih. Yang impact-nya, tentu bisa ditebak, penggemukan tubuh partai di masyarakat. Jadi tak perlulah dilakukan pencitraan diri partai secara berlebih-lebihan, apalagi sampai menjelma menjadi partai yang terbuka bahkan buka-bukaan. karena pecitraan partai, akan terbentuk dengan sendirinya seiring dengan kuatnya ideologi partai yang menyentuh masyarakat. Sehingga masyarakat akan tertunjuki oleh ideologi tersebut dan ikut bergerak karena pengaruh ideologi tersebut.

Politik gincu, hanyalah salah satu kosmetiknya sistem demokrasi yang serba utopis. Partai-partai idealis, mau tidak mau, pasti akan tergerus juga ideologinya oleh tawar menawar politik ala demokrasi. Partai yang seharusnya membersihkan diri masyarakat dan umat dari kedigdayaan liberalisme, sekulerisme, dan politikusme, justru terjerat arus isme-isme tadi.

Terakhir, Partai seharusnya mendedikasikan dirinya kepada umat, bukan mendedikasikan dirinya untuk perolehan suara. Karena jika partai hanya mendedikasikan diri demi suara,suara, dan suara. Apa bedanya mereka dengan partai van Americana?. (Oleh Nurina)

 

Terakhir Diupdate ( Rabu, 23 Juni 2010 14:06 )  

Add comment

Security code
Refresh

dk tv "Wajah Asli Obama"

Statistik Website

Anggota : 22
Konten : 1043
Jumlah Kunjungan Konten : 221715






















 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Admin
Redaksi
Marketing

Share on facebook

Share on facebook