
Kuliah bukan sebuah tujuan utama, maka jangan sampai menjadi prioritas yang mengabaikan banyak ilmu yang berkeliaran di luar. (Chio, Jangan Sadarin Mahasiswa).
Kaum intelektual pemuda, pelajar dan mahasiswa merupakan salah satu harapan terjadinya kebangkitan umat. Setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Mahasiswa, menurut Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya “Perubahan Sosial”, adalah the one and only efficient opposant in the world (satu-satunya pengemban amanah oposan yang paling efisien didunia). Kenapa demikian? Sebab, mahasiswa memiliki idealisme tinggi, semangat merealisasikan tujuan perjuangan serta punya kesiapan dan pengorbanan untuk mewujudkannya. Jika semua ini lekat dalam seorang mahasiswa, dialah mahasiswa sejati.
Mahasiswa yang lahir dan tumbuh dalam situasi bangsa yang tenang, aman terkendali, penuh ketentraman dan kemakmuran ternyata banyak melahirkan mahasiswa yang aktifitasnya lebih tertuju kepada konsumtif, egoisme dan individualis. Akhirnya, tipe mahasiswa seperti ini cenderung apatis dan pasif atas dinamika sosial yang terjadi.
Selanjutnya, lahir pula mahasiswa yang tumbuh dalam situasi bangsa yang keras dan penuh gejolak. Kondisi bangsa saat itu diwarnai berbagai upaya untuk mengembalikan hak-hak yang dirampas, kemerdekaan yang terancam, dan kehormatan yang hilang. Kondisi ini terjadi ketika kemerdekaan baru saja diraih Indonesia. Sekitar tahun 60-an. Walau jumlah kampus masih sangat sedikit, dunia kampus kala itu, tidak hanya bermutu secara intelektual mahasiswa, tapi juga melahirkan mahasiswa bermutu dari sisi semangat bergerak dan berjuang. Mahasiswa yang ada bukanlah generasi mahasiswa yang berjuang karena azas manfaat dan pragmatis. Mahasiswa yang lahir era 60-an ialah generasi mahasiswa yang paham betul tuntutan masyarakat. Bergerak dalam pergerakan demi terpenuhnya hak-hak rakyat yang tertindas penguasa tirani. Berjuang dengan terus mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.
Perlu diingat, walau mereka aktif dalam dunia pergerakan mahasiswa, dalam perkuliahan mereka benar-benar mendapatkan ilmu sesuai bidangnya. Namun, ilmu yang dipelajari tersebut bukan hanya ditujukan untuk mendapat nilai dan IPK besar. Sangat hebat dan kuat kondisi mahasiswa ‘tempoe doeloe’. Tidak cukup hanya dengan kuliah dan aktif dalam pergerakan. Mereka juga rela kuliah sambil kerja kasar untuk membiayai kuliahnya, demi kelangsungan hidup mereka dan keluarganya.
Perjuangan gigih yang mereka lakukan justru tidak sekedar mencetak otak yang cerdas untuk masalah akademik. Tapi juga cerdas dalam mengarungi kehidupan. Mereka bersentuhan langsung dengan realita yang penuh warna. Warna putih, hitam bahkan abu-abu. Semua warna mencirikan berbagai realita yang menghantui otak-otak mahasiswa. Sayang, tidak sedikit mahasiswa yang memilih hidup dengan warna yang tepat. Karena kondisi bangsa yang carut marut, mereka terbuai oleh rayuan parpol. Mereka termakan godaan jabatan dan harta. Hasilnya apa? Ketika rezim buruk diganti dengan rezim baru yang dianggap bagus, ternyata malah melahirkan rezim yang tak berbeda jauh keburukannya. Jangankan membela ideologi Islam, rezim yang ada tampak berdarah dingin. Secara halus menjual kekayaan SDA dan SDM negeri ini demi kepentingan kapitalis.
Sekitar tahun 80-an. Setelah puluhan tahun Indonesia merdeka, aktivitas politik dalam negeri dibungkam habis oleh rezim. Tak terkecuali mahasiswa. Gejolak semangat mahasiswa terpenjara oleh aturan dan kebijakan penguasa. Alhasil, gerakan underground dipilih mahasiswa sebagai jalan terakhir merentas perubahan. Akhirnya, perjuangan meraih hak-hak kebebasan mencapai puncaknya pada tahun 1998. Rezim kedua yang berumur 30 tahun berhasil ditumbangkan oleh ‘mahasiswa’. Namun, sejarah kembali terulang. Tuntutan mahasiswa untuk mengubah negeri ini menjadi lebih baik menjadi mimpi di siang bolong. Meskipun aktivis saat itu tergolong berasal dari gerakan Islam justru perjuangan yang mereka lakukan masih kabur dan tidak berani. Sistem yang dipakai tetaplah sistem buatan manusia. Ideologi kapitalisme. Rezim yang dipilih pun bukanlah rezim yang menjalankan syariat Islam seutuhnya. Hasilnya, semangat reformasi kembali ditunggangi politikus pragmatis, kapitalis dan narsis.
Kini, dunia mahasiswa juga dipenuhi realita yang buruk sekali. Mahasiswa yang sebenarnya kritis dipaksa ‘tidur’. Mahasiswa yang tahu betul dengan kebobrokan rezim dan sistem negeri ini dipenjarakan dengan berbagai kebijakan. Mahasiswa yang paham bahwa Islam satu-satunya ideologi yang wajib diadopsi negara justru diopinikan dengan label-label negatif. Intinya, segala kebijakan dibuat agar kebebasan mahasiswa untuk ‘melawan’ lewat kendaraan organisasi-organisasi tertutpup rapat. Semua ini dilakukan karena penguasa sadar bahwa semangat mahasiswa dapat membahayakan kelanggengan rezim dan sistem yang ada selama ini. Mahasiswa sekarang ‘dipaksa’ untuk hanya menyibukan diri mengejar prestasi akademik lewat IPK yang besar, dipaksa untuk cepat tamat kuliah, ‘dipaksa’ untuk menolak ajakan aksi koreksi atas kebijakan penguasa apalagi jika diajak untuk mengikuti kegiatan Islam, ‘dipaksa’ untuk tidak melek politik apalagi ngomong politik. Kini, mahasiswa disuap oleh materi-materi sekuler yang lahir dari kurikulum yang sekuler pula. Alhasil, akibat bodohnya otak mahasiswa sekarang, banyak mahasiswa bangga hanya karena diiming-iming bekerja diperusahaan asing, mendapatkan beasiswa ke luar negeri –padahal itu (tidak semua) merupakan salah satu strategi brain wash-, bangga gaji besar, dan bangga ‘dibeli’ oleh partai politik dan sebagainya.
Beginilah kondisi mahasiswa sekarang. Mulai dari sistem hingga produk sistem sama rusaknya. Sehingga, sangatlah tepat jika berdakwah menjadi satu-satunya pilihan aktivis dakwah kampus. Tiada lain dengan cara memberikan warna berbeda di kampus. Yang dilakukan bukan untuk mengisi waktu kosong. Tapi dilakukan karena mengerti bahwa solusi terbaik menyelesaikan kondisi mahasiswa sekarang hanyalah dengan melakukan gerakan ‘dakwah kampus’ Mengapa harus diperbaiki? Sebab, posisi mahasiswa menjadi potensi terpendam dalam merespon setiap perkembangan yang berkaitan dengan kemaslahatan umat. Dalam kilasan sejarah, baik pada scope nasional, regional dan internasional urgensi dan daya dobrak yang luar biasa dari mahasiswa sudah menjadi bukti yang cukup membuat orang-orang yang meremehkan potensi mahasiswa akan berpikir beberapa kali sebelum melakukan tindakan konfrontasi dengan mereka. Segala perubahan hanya terjadi lewat tangan-tangan mahasiswa!
Terlepas dari fakta sejarah diatas, setiap generasi menuntut peran yang berbeda dari mahasiswa. Setiap masa ada pejuang dan pemenangnya masing-masing. Setiap era dengan berbagai realitanya akan membagi kelompok mahasiswa, menjadi biasa atau mahasiswa luar biasa. Setiap zaman akan ada pembagian, menjadi pemain ataukah penonton. Menjadi aktivis dakwah kampus atau objek dakwah kampus? Sungguh, mereka adalah anak zaman yang senantiasa mampu menyesuaikan peran yang harus diembannya, bahkan peran yang sulit sekalipun.
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka”
(Q.S.Al-Kahfi : 13)
(Oleh Zuhandri, BKLDK Palembang)




