Etika tingkah laku dikenal saat ini dengan sebutan protokoler. Setiap masyarakt memiliki tingkah laku, bahkan para protokoler mempunyai tugas khusus dalam pekerjaannya. Anda makan dengan tingkah laku tertentu, berpakaian dengan etika tertentu, berjumpa dengan etika tertentu, dan tentu saja berdakwah dengan etika tertentu. Tingkah laku harus sesuai dengan waktu, tempat, dan kondisi yang terjadi.
Namun itulah Islam, lengkap dengan semua tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Agama kita memberi perhatian penuh yang istimewa dalam membina masyarakat. Rasullullah pernah memberi peringatan : “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka Ia termasuk didalamnya.” Maksud hadits tersebut bukan melarang kita menggunakan sarana-sarana yang ada pada orang lain, tetapi maksud disini agar kita tidak ikut-ikutan orang lain dalam etika dan tingkah laku dan lebih memelihara pada kepribadian kita.
Hal ini bukan didasarkan pada fanatisme, dan pembatasan. Hal ini didasarkan pada alasan tersembunyi yang nyata, yaitu agar perkembangan pola pikir dan karakter pribadi kita sesuai dengan yang seharusnya diperintahkan. Nah, berikut ini akan kami paparkan beberapa etika-etika utama yang perlu untuk segera dipraktekkan pada kepribadian seorang Muslim sehingga membentuk corak insane da’iyah.
Etika perizinan
Masalah izin termasuk problem yang penting dalam kehidupan seorang muslim. Meremehkan poin ini akan menjatuhkan martabat individu dan masyarakat. Bagi orang yang konsekuen sangat menghormati waktu dan komitmen dengan etika perizinan. Misalnya izin untuk memasuki rumah orang lain.
Bayangkan jika sekiranya anda sedang melakukan sebuah pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan tenaga anda, tiba-tiba datang seorang tanpa permisi dan mengganggu pekerjaan anda, tentunya hal ini akan merusak waktu, pekerjaan, dan berpengaruh pada diri anda.
Firman Allah SWT :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali. itu bersih bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS An-Nur ayat 27-28)
Karena itu wajib dipahami oleh setiap muslim bahwa apapun kepentingan kita, jangan masuk ke dalam rumah seseorang kecuali ia berkenan dan mengizinkan sehingga masuknya kita ini disukai. Ini adalah salah satu contoh saja. Ada banyak lagi tentunya masalah perizinan, misalnya dalam menggunakan barang milik orang lain.
Etika Memberi salam
Hal ini mungkin sudah lumrah dalam pergaulan kita. Tidak perlu saya terangkan lagi bagaimana besar dan hebatnya kekuatan salam. Dari kalimatnya saja sudah terlukis kecintaan, kasih sayang, dan keberkahan yang tertuang dalam hati sehingga perjumpaan dengan orang lain terlelap dalam kecintaan yang dalam, menjadikan masyarakat suatu persaudaraan dan melupakan kepongahan hidup dan kehidupan.
Jangan lupa saudaraku, mari kita ucapkan salam di setiap kesempatan yang ada, tidak hanya pada orang yang kita kenal, tetapi juga orang yang tidak kita kenal. Di Negara kita Assalamu’alaikum telah menjadi bahasa salam yang umum, sehingga sering digunakan. Jadi, sudahkah Kita mengucapkan salam dalam kehidupan kita sehari-hari?
Adab Majelis
Setiap majelis mempunyai kebiasaan dan tradisi. Islam adalah sebaik-baik agama yang dikeluarkan untuk manusia dan memiliki kebiasaan dan tradisi yang membedakan dengan yang lainnya. Apabila seorang muslim datang ke suatu majelis, hendaklah Ia mengucapkan salam kepada ahlinya, lalu ia duduk hingga majelis itu berakhir. Semua itu ada etikanya.
Sabda Nabi SAW :
Maka apabila majelis itu sudah penuh dan tidak ada tempat untuk orang yang baru datang, maka Nabi memerintahkan kepada mereka agar meluaskan tempat duduk (HR khamsah).
Adapun apabila majelis itu khusus dan orang-orang duduk saling bertukar pikiran dalam masalah yang sangat penting bagi mereka dan orang lain tidak boleh, maka dalam hal ini Nabi melarang kita ikut bergabung bersama mereka di majelis tersebut. Dan meminta izin dan memberi salam ketika ingin keluar sebagaimana ketika masuk.
Jangan membuat keonaran di dalam majelis. Tidak boleh bicara berbisik dua orang jika dalam majelis tersebut terdapat lebih dari dua orang, karena hal itu akan menyakiti orang yang tidak ikut dibisiki. Tidak boleh mencegah kaidah-kaidah dan etika dari memuliakan seseorang karena lebih tua umurnya atau lebih tinggi ilmunya.
Etika Berbicara dan mendengar
Dalam hal komunikasi, islam juga telah mengatur sebagai berikut:
- Adab berbicara : 1. Sunnah, dalam ucapannya mudah dipahami.
2. Jangan terlalu mendalam dalam berbicara, jangan menggunakan bahasa yang sukar
3. benar dalam ucapannya, tepat pada waktunya
4. memberikan hak bagi setiap orang dan majelis. Sesuai dengan kondisi, jangan bermain di majelis yang serius, jangan sedih di tempat gembira.
5. Menjauhi Ghibah.
6. Merendahkan suara
- Adab mendengar : 1. Menerima pembicaraan dengan penuh perhatian
2. Tidak menerima mentah-mentah, kita boleh memberikan penafsiran dan penolakan, karena perbedaan membawa hikmah
3. dilarang melakukan debat yang batil dan mengharap kemenangan.
Etika Makan
Makan menempati tempat yang penting dalam etika. Seorang muslim akan merasakan bahwa makan adalah nikmat Allah atasnya. Tidak ada kekuatan selain Allah. Dan menjauhkan yang haram dalam makanan, minuman, pembicaraan, atau perjumpaan. Berbeda dengan etika makan orang barat. Bagi mereka kelezatan adalah yang paling penting. Memakai pakaian yang berlebih-lebihan. Makanan yang berlebihan, sehingga selesai makan banyak makanan yang masuk ke kantong sampah.
Sedangkan Islam mengajarkan sebagai berikut :
1. Makan dimulai dengan membaca basmalah dan diakhiri dengan hamdalah
2. Memelihara kebersihan sebelum makandan sesudahnya.
3. Makan makanan dengan tangan kanan
4. Menghormati makanan dan tidak berlebih-lebihan
5. Mengambil makanan yang dekat dahulu
6. Janganlah makan terlampau kenyang
7. Makanlah dengan mudah. Jika Ia ingin maka Ia makan, jika Ia benci maka ia meninggalkan (HR Bukhari Muslim)
Camkanlah etika yang agung ini, yang diajarkan oleh islam untuk dikomitmenkan pada pemeluknya. Allah menciptaka mahluk dan menyatukan dalam persaudaraan, dijadikannya pada diri manusia kecintaan dan kasih sayang. Dan yang lebih penting etika ini dapat digunakan untuk membantu manusia untuk tetap berada di jalan yang lurus. Menyatukan kita semua, dan menambah erat tali persaudaraan. (Oleh Rizky Syahfandi, BKLDK Undip)
Daftar pustaka :
Muhammad Tahhan, Musthafa. Muslim Ideal masa kini. Cendekia, 2000, Jakarta




