Dakwahkampus.com

04 September 2010
-->

Manajemen Pergaulan (Memilih Teman) Bagian 2

E-mail Cetak PDF

Tak bisa dipungkiri lagi pemikiran manusia bergantung pada bagaimana pergaulannya. Manusia dalam hakikatnya sebagai mahluk sosial memang diwajibkan untuk mengembangkan pemikirannya. Untuk itu kita harus berhati-hati dalam memilih teman. Rasullullah SAW pernah memberikan perumpamaan seperti ini : “Perumpamaan teman yang baik dengan yang jahat seperti tukang minyak wangi dan tukan kir, tukang minyak wangi akan menghampiri anda, atau anda membelinya, atau anda akan mendapatkan bau yang harum. Adapun tukang kir, ia akan membakar baju anda, atau anda mendapatkan bau tak sedap. (HR Muttafaq Alaih)

Maka hendaklah kita memperhatikan hal-hal berikut ini dalam memilih teman :

1. Pandai / berakal

Tidak ada baiknya berteman dengan orang yang bodoh., sebab bersahabat dengannya pasti berujung pada keputusasaan dan permusuhan. Paling sedikit bahayanya adalah dia ingin memberimu manfaat, akan tetapi karena akibat kebodohannya dia justru memberimu mudharat. Oleh karena itu teman yang bodoh dianggap lebih berbahaya daripada musuh yang berilmu.

2. Akhlak yang baik

Begitu banyaknya orang yang cendekia mengetahui sesuatu dengan tepat, akan tetapi jika marah menguasainya, hawa nafsu, bakhil, atau penakut, niscaya ia mengikuti akan hawa nafsunya, melakukan yang salah karena lemahnya dari menguasai kepribadiannya, dan lemah dari meluruskan akhlaknya, maka tidak ada kebaikan dalam menemaninya.

3. Shaleh

Bertemanlah dengan orang yang shaleh. Jangan berteman dengan orang yang fasik, yaitu orang yang melakukan maksiat besar. Sebab orang seperti itu tidak takut kepada Allah SWT., dan tidak percaya akan hisab-Nya, dan janganlah berteman dengannya. Sesuai dengan firman Allah SWT :

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS Al-Kahfi ayat 28)

4. Bukan Ahli Bid’ah

Berteman dengan ahli bid’ah sangat berbahaya, orang yang melakukan bid’ah harus dijauhi, karena memberikan pengaruh yang belum tentu benar kepada temannya.

Berkata Umar bin Khattab RA seperti yang diriwayatkan oleh Sa’id al-Musayyab, ia berkata: ”Sepantasnya Anda mencari teman yang baik, hiduplah kamu dalam lingkungan mereka, karena sesungguhnya mereka adalah perhiasan dalam kebahagiaan, tameng (perisai) dalam bencana. Letakkanlah persoalan temanmu atas kebaikannya sehingga ia dating kepadamu dengan apa yang menyenangkan bagimu, hindarilah musuh kamu, hati-hatilah dengan temanmu kecuali ia takut kepada Alaah SWT., maka janganlah kamu berteman dengan orang yang durhaka, kamu akan mempelajari dan mengikuti kedustaannya, jangnlah kamu membuka rahasia, sebarkanlah dakwahmu tentang orang-orang yang takut kepada Allah SWT..

5. Tidak tamak dunia

Berteman dengan orang yang cinta kepada dunia adalah racun yang mematikan, karena tabiat mengikuti yang diserupai. Berteman kepada orang yang cinta kepada dunia dapat membawa kepada keserakahan. Hal itu terjadi oleh karena secara fitri, hati manusia diciptakan ingin selalu meniru dan mengikuti, bahkan terkadang tabiat dan sifat itu saling menulari dengan tanpa disadari.

6. Kejujuran

Sudah jelas kita harus berteman dengan orang yang jujur. Janganlah berteman dengan orang yang pembohong, karena engkau pasti tertipu olehnya dengan suatu alas an atau suatu urusan yang tidak jelas. Seorang pembohong tidak jauh beda dengan fatamorgana, dia seakan mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Ketika persahabatan telah terjalin dan antara diri kita dan teman kita telah terikat tali kebersamaan, maka kita harus melaksanakan kewajiban-kewajibanmu dengan baik. Kita harus bertingkah laku dengan adab yang mulia. Rasullullah pernah bersabda yang artinya : “Perumpamaan dua orang yang bersahabat adalah seperti dua tangan, (keduanya saling membersihkan dan saling membantu).

Kemudian pada kesempatan lain, Rasulllullah SAW menemukan dua batang kayu siwak ketika berada dalam hutan. Kayu yang satu lurus dan yang satunya bengkok. Kemudian Rasullullah memberikan kayu yang lurus kepada seorang sahabat yang menemaninya. Dan memakai yang bengkok untuk dirinya. Sahabat kemudian bertanya :”wahai Rasullullah, engkau lebih berhak untuk memakai yang lurus daripada diriku.” Kemudian Rasullullah bersabda : “Tidaklah seseorang berteman dengan seseorang, walaupun hanya sesaat, kecuali dia akan ditanya tentang persahabatannya, apakah dia telah memenuhi kewajiban yang diamanatkan Allah di dalam persahabatannya atau menyia-nyiakannya.

Jika hal ini telah kita terapkan, tentu dalam berdakwah kita akan sangat terbantu. Teman akan menjadi tempat kita bersandar disaat sedang lelah. Teman dapat membangkitkan semangat kita ketika kita sedang futur (lemah iman). Sehingga hubungan seperti ini akan meningkatkan kualitas manajemen dakwah kita.

Jadilah engkau orang yang sangat memperhatikan kebenaran, menutup telinga dari omong kosong, sering menyebut kebaikan dan banyak berdiam dari kejelekan-kejelekan. (Oleh Rizki Zyahfandi, BKLDK Undip)

Rujukan

Abdul Wahid Dahlan Al-Mutamakkin, Yahya, Bidayatul Hidayah, Toha Putra, Semarang, 2005

Muhammad Tahhan, Musthafa. Muslim Ideal masa kini. Cendekia, Jakarta, 2000

 

Terakhir Diupdate ( Senin, 17 Mei 2010 07:50 )  

Add comment

Security code
Refresh

dk tv "Wajah Asli Obama"

Statistik Website

Anggota : 22
Konten : 1041
Jumlah Kunjungan Konten : 218693






















 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Admin
Redaksi
Marketing

Share on facebook

Share on facebook