
Kuliah bukan sebuah tujuan utama, maka jangan sampai menjadi prioritas yang mengabaikan banyak ilmu yang berkeliaran di luar. (Chio, Jangan Sadarin Mahasiswa).

Kuliah bukan sebuah tujuan utama, maka jangan sampai menjadi prioritas yang mengabaikan banyak ilmu yang berkeliaran di luar. (Chio, Jangan Sadarin Mahasiswa).
Terakhir Diupdate ( Minggu, 27 Juni 2010 23:29 )

Etika tingkah laku dikenal saat ini dengan sebutan protokoler. Setiap masyarakt memiliki tingkah laku, bahkan para protokoler mempunyai tugas khusus dalam pekerjaannya. Anda makan dengan tingkah laku tertentu, berpakaian dengan etika tertentu, berjumpa dengan etika tertentu, dan tentu saja berdakwah dengan etika tertentu. Tingkah laku harus sesuai dengan waktu, tempat, dan kondisi yang terjadi.
Namun itulah Islam, lengkap dengan semua tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Agama kita memberi perhatian penuh yang istimewa dalam membina masyarakat. Rasullullah pernah memberi peringatan : “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka Ia termasuk didalamnya.” Maksud hadits tersebut bukan melarang kita menggunakan sarana-sarana yang ada pada orang lain, tetapi maksud disini agar kita tidak ikut-ikutan orang lain dalam etika dan tingkah laku dan lebih memelihara pada kepribadian kita.
Terakhir Diupdate ( Senin, 24 Mei 2010 08:30 )

Tak bisa dipungkiri lagi pemikiran manusia bergantung pada bagaimana pergaulannya. Manusia dalam hakikatnya sebagai mahluk sosial memang diwajibkan untuk mengembangkan pemikirannya. Untuk itu kita harus berhati-hati dalam memilih teman. Rasullullah SAW pernah memberikan perumpamaan seperti ini : “Perumpamaan teman yang baik dengan yang jahat seperti tukang minyak wangi dan tukan kir, tukang minyak wangi akan menghampiri anda, atau anda membelinya, atau anda akan mendapatkan bau yang harum. Adapun tukang kir, ia akan membakar baju anda, atau anda mendapatkan bau tak sedap. (HR Muttafaq Alaih)
Maka hendaklah kita memperhatikan hal-hal berikut ini dalam memilih teman :
Terakhir Diupdate ( Senin, 17 Mei 2010 07:50 )

Sejak Khilafah Islamiyah lenyap dan kaum Muslim seperti anak ayam kehilangan induk, umat terus tercerai berai dalam puluhan sekat negara. Terbuai oleh ‘bagusnya’ kulit luar nasionalisme. Meskipun demikian, tekad untuk mengentaskan kaum Muslim dari realita buruk yang menjadi realita hidup mereka tidak pernah dan tidak akan terputus. Berbagai upaya kebangkitan terus dilakukan. Bermacam usaha sekuat tenaga dikerahkan untuk mengubah realita tersebut.
Terakhir Diupdate ( Jumat, 14 Mei 2010 10:23 )

Para motivator sering mengatakan jangan menyerah sebelum cita-cita tercapai. Dan karena aktivis dakwah pasti memiliki cita-cita dakwah, maka tidak boleh ada kata menyerah sebelum cita-cita tercapai. Bahkan jangan berhenti untuk mempertahankan cita-cita yang sudah diraih.
Kami sering mempersuasi para aktivis dakwah agar menanamkan tekad untuk meraih kekuasaan di lembaga-lembaga formal kampus. Karena hanya kekuasaan atau kepemimpinanlah satu-satunya metode untuk membuat ideology yang diperjuangkan dapat terealisir. Artinya, diraihnya kepemimpinan akan membuat para aktivis dakwah akan bertemu dengan konteksnya sebagai pengemban sebuah ideology. Kalau tidak punya niatan memimpin jangan-jangan tidak punya ideology. Karena “ideology” dan “kepemimpinan” sangat identik. Bila ada ideology tak berorientasi kepemimpinan itu ideology kosong namanya. Begitu juga, apabila kepemimpinan yang tak punya ideology, itu pasti kepemimpinan yang rapuh.
Terakhir Diupdate ( Rabu, 12 Mei 2010 08:37 )

