Dakwahkampus.com

10 September 2010
-->

Fokus Utama

Tolak Kedatangan Obama!

Oleh: Ali Mustofa (Aktivis BKLDK Solo Raya)

Presiden Amerika Serikat Barack Obama direncanakan akan datang ke Indonesia pada bulan maret mendatang. Masyarakat Indonesia menanggapinya dengan beragam. Ada yang menyambutnya dengan antusias, apalagi pemimpin negara adi kuasa itu pernah tinggal beberapa saat di Indonesia.

Sebaliknya, banyak juga umat Islam yang menolak karena menganggap Obama tidak layak diberlakukan sebagai tamu mengingat sepak terjang Obama yang selama ini telah melakukan tindakan biadap dengan membantai saudara-saudara mereka di negeri-negeri Islam. Yang lain lagi, menganggapnya biasa-biasa saja karena hal itu dianggap wajar sebagai tamu kenegaraan.

Terakhir Diupdate ( Minggu, 07 Maret 2010 04:52 )

 

Lagi, Bukti Kekejaman Panglima Perang Obama (Pasukan NATO Pimpinan AS, Bunuh 21 Penduduk Sipil)

Pemerintah Afganistan, Senin (22/2/2010), mengemukakan, sebuah serangan udara NATO di selatan Afganistan telah menewaskan 21 penduduk sipil. Persitiwa itu ketika sebuah pesawat NATO menyerang sasaran sipil yang diduga sebagai pemberontak. Pasukan NATO di Afganistan dalam sebuah pernyataan mengatakan, penduduk sipil telah terbunuh ketika mereka mendekati sebuah pasukan gabungan NATO dan Afganistan di Provinsi Uruzgan, Minggu, tetapi tidak menyebutkan jumlah korban yang tewas. (Kompas; 22/02)

Serangan ini menambah bukti kekejaman Obama yang menjadi panglima tertinggi pasukan perang Amerika Serikat. Atas komando Obama sang Presiden, dikirim 30 ribu pasukan tambahan untuk memperkuat penjajahan Amerika di Afganistan. Dipastikan jumlah umat Islam yang terbunuh akan bertambah. Data PBB menyebutkan, sepanjang tahun 2008 saja jumlah warga sipil Afganistan yang tewas meningkat 40 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Menurut data PBB, jumlah warga sipil yang tewas akibat aksi-aksi kekerasan di Afganistan pada tahun 2008 sekitar 2.100 orang.

Terakhir Diupdate ( Minggu, 07 Maret 2010 04:53 )

Century Gate, Tolak Obama, UU 1/PNPS/1965

Century Gate, Tolak Obama, UU 1/PNPS/1965

Terakhir Diupdate ( Minggu, 07 Maret 2010 04:53 )

Menangkal Wabah Relativisme Kebenaran

Oleh: Guru Redaksi

Wabah Relativisme Kebenaran
Seiring dengan gencarnya pemikiran liberal, gencar pula pemikiran yang berbasis ide relativisme. Pemikiran itu pun dikemas dalam slogan-slogan indah yang enak didengar. Misalnya, slogan “Semua adalah relatif,” atau “kebenaran adalah relatif”, “akal itu relatif” dan sebagainya.

Slogan “Semua adalah relatif” kemudian berkembang menjadi sebuah kerangka berpikir. Seperti ungkapan “Jangan memonopoli kebenaran”, atau “Berpikirlah yang benar, tapi jangan merasa benar”, sebab kebenaran itu relatif. “Jangan terlalu lantang berbicara tentang kebenaran dan jangan menegur kesalahan”, karena kebenaran itu relatif. “Bagi Anda benar, belum tentu benar bagi kami”, semua adalah relatif. “Kalau Anda mengimani sesuatu jangan terlalu yakin keimanan Anda benar, iman orang lain mungkin juga benar”. “Kalau Anda mengklaim sesuatu itu benar orang lain juga berhak mengklaim itu salah”. “Kalau Anda merasa agama Anda benar, orang lain berhak mengatakan agama Anda salah”.Intinya semua diarahkan agar tidak merasa pasti tentang kebenaran Sehingga, merasa benar menjadi seperti “makruh” dan merasa benar sendiri tentu “haram”.

Terakhir Diupdate ( Minggu, 07 Maret 2010 04:54 )

Valentin Day's: Liberalisasi Budaya Mengancam Bangsa Ini

Kehebohan dalam rangka "Hari Kasih Sayang" (Valentine’s Day) begitu terasa selama sepekan ini. Kehebohan itu sekarang bukan hanya melanda ABG, tetapi juga melanda orang-orang dewasa. Kehebohan itu menghiasai halaman-halaman media massa dari media cetak hingga televisi. Mall dan pusat perbelanjaan sampai toko-toko kecil pun turut larut dalam kehebohan itu.

Kehebohan ini dibungkus dengan sebutan yang indah, "Hari Kasih Sayang", yang mendorong semua orang untuk mengungkapkan cinta dan sayangnya kepada orang-orang dekat mereka khususnya pasangan. Namun sejatinya, kehebohan ini sarat dengan kampanye seks bebas dan desakralisasi keperawanan (keperawanan tak lagi dianggap ’suci’). Kehebohan "Hari Kasih Sayang" ini seiring-sejalan dengan pornoaksi. Hal ini bisa dilihat dari laris manisnya penginapan dan tempat-tempat pelesiran selama Valentinan yang dipesan dan didatangi oleh pasangan muda-mudi dan pria-wanita dewasa. Omset penjualan kondom yang melonjak juga menandakan bahwa kehebohan "Hari Kasih Sayang" ini tidak jauh dari aktifitas seks bebas. Selama Valentinan, suasana memang didesain erotis dan dipadu dengan budaya konsumsi coklat yang mengandung Phenylethylamine dan Seratonin. Coklat ini memacu gairah ekstase dan erotis serta berefek meningkatkan kegembiraan dan stamina.

Terakhir Diupdate ( Minggu, 07 Maret 2010 04:55 )

Halaman 5 dari 25

dk tv "Wajah Asli Obama"

Statistik Website

Anggota : 22
Konten : 1043
Jumlah Kunjungan Konten : 221692






















 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Admin
Redaksi
Marketing

Share on facebook

Share on facebook