Dakwahkampus.com

04 September 2010
-->

Fokus Utama

Mustafa Abubakar Siap Lanjutkan Program Privatisasi BUMN

{mosimage}Jakarta - Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) segera meminta jadwal pertemuan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait dengan izin privatisasi beberapa perusahaan plat merah.

Menurut Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar saat ini pihaknya akan melakukan kordinasi dengan deputi terkait di Kementerian Negara BUMN.

"Kita akan kordinasikan hari ini dengan Deputi terkait. Nanti kita pelajari opsi-opsi yang tepat," jelasnya di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (26/10/2009).

Menurutnya, ia belum memiliki jadwal pasti mengenai pertemuannya dengan DPR. Namun ia berharap pekan depan sudah bisa dikoordinasikan dan meminta waktu kepada DPR.

Privatisasi BUMN harus dilakukan setelah mendapat restu dari anggota dewan. Privatisasi tersebut salah satunya mencakup penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO).

Perusahaan negara yang saat ini masih butuh restu DPR dalam melakukan privatisasinya adalah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, IV dan VII.

Sementara perusahaan plat merah yang sudah siap masuk lantai bursa antara lain: PT Krakatau Steel, PT Garuda Indonesia, PT Waskita Karya, PT Pembangunan Perumahan dan PT Bank Tabungan Negara (BTN). Sementara privatisasi PT Adhi Karya Tbk (ADHI) akan dilakukan melalui penerbitan saham baru (rights issue). (detikfinance.com 26/10/2009)

Terakhir Diupdate ( Selasa, 27 Oktober 2009 04:38 )

 

Gaji Menteri Hanya Rp 18 Juta, Tapi Penghasilan di Atas Rp 100 Juta

{mosimage}Senin, 26 Oktober 2009
Jakarta
- Kalau berbicara soal gaji, seorang menteri di Indonesia memang hanya menerima kurang lebih Rp 18 juta per bulan. Jumlah itu memang jauh lebih kecil dari gaji yang diterima petinggi di BUMN.

Namun jangan salah, seorang menteri memiliki honor lain dan juga dana operasional yang tidak sedikit. Total, seorang menteri memiliki penghasilan di atas Rp 100 juta.

"Gajinya memang hanya Rp 18 juta ya, tapi kan masih ada honor-honor lain," kata Peneliti Hukum dan Politik Anggaran Indonesia Budget Center (IBC) Roy Salam kepada detikcom, Senin (26/10/2009).

Roy mengatakan, gaji Rp 18 juta yang diterima seorang menteri hanya terdiri dari dua item yakni gaji pokok dan tunjangan jabatan. Seorang menteri dan pejabat setingkat menteri menerima gaji pokok sebesar Rp 5.040.000 dan tunjangan jabatan Rp 13.608.000.

"Tapi itu baru dua item ya, masih ada honor-honor seperti menjadi anggota kepanitiaan program-program pemerintah dan juga masih ada dana taktis menteri yang besarnya antara Rp 100 hingga Rp 150 juta," kata Roy.

Rencana kenaikan gaji menteri ini mendapat respons negatif dari masyarakat. Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyebut, rencana penambahan gaji menteri tersebut bukanlah kenaikan melainkan penyesuaian.

Saat ini, penyesuaian gaji menteri seperti dituturkan Hatta, masih digodok di Kementerian PAN. (detiknews.com 26/10/2009)

Terakhir Diupdate ( Selasa, 27 Oktober 2009 04:17 )

Menteri SBY Banyak Lulusan Amerika

Menteri SBY Banyak Lulusan Amerika
Jakarta - Para Menteri Kabinet Indonesia (KIB) ternyata banyak yang lulusan Amerika Serikat, terutama menteri di bidang ekonomi. Dari total 34 menteri, ada sekitar 10 menteri yang lulusan negeri Paman Sam tersebut.

Menteri lulusan AS tersebut adalah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Armida Alisjahbana, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Menpora Andi Mallarangeng, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh, dan Kepala BKPM Gita Irawan Wiryawan.

Kebanyakan di antara mereka adalah lulusan Harvard University. Gita Wirjawan, misalnya. Pria kelahiran Jakarta 21 September 1965 ini adalah peraih master dari Harvard University. Demikian juga Endang Rahayu Sedyaningsih. Menkes yang sempat dituding sebagai agen AS ini meraih gelar PhD dari Harvard School of Public Health.

Harvard University memiliki makna tersendiri bagi SBY. Selain putra pertamanya juga melanjutkan kuliah di kampus yang terletak di kota Boston tersebut, SBY pun pernah 'pamer', bahwa para menteri yang membantunya banyak yaang lulus dari Harvard. Hal tersebut SBY sampaikan saat berkunjung ke kampus Harvard September 2009 lalu.

SBY juga tercatat pernah mengeyam pendidikan militer di Westpoint, AS. Pada 2003 saat berkunjung ke AS ketika menjabat sebagai Menko Polkam, SBY pernah berujar, 'I love the United States with all its faults. I consider it my second country'.

Apakah dipilihnya kembali para menteri KIB II yang banyak lulusan AS ini disengaja? Hanya SBY yang tahu.(detiknews.com 26/10/2009)

Terakhir Diupdate ( Senin, 26 Oktober 2009 20:47 )

Ganti Siti Fadilah & Pakai Endang, SBY Tunduk Pada AS

Ganti Siti Fadilah & Pakai Endang, SBY Tunduk Pada AS

"Ini kabinet neoliberal yang cenderung tunduk pada kepentingan Amerika. Ibu Siti ditendang. Padahal dia berhasil karena bisa melawan negara besar seperti Amerika dan WHO," kata pengamat politik LIPI Syamsudin Haris pada detikcom, Kamis (22/10/2009).

Syamsudin menyayangkan SBY yang tidak lagi memakai Siti yang dia nilai telah berhasil. "Sayangnya SBY nggak pakai lagi. Mungkin karena SBY terlalu tunduk pada Amerika dan WHO," kata Syamsudin.

Selain itu dia juga menganggap audisi menteri yang dilakukan SBY sebenarnya tidak perlu. Sebab calon yang diaudisi hanya 1 untuk tiap pos kementerian, kecuali untuk jabatan Menkes. Jika berniat audisi, seharusnya 1 pos kementerian minimal 2 orang.

"Kasihan juga dengan Ibu Nila, dia satu-satunya yang gagal. Padahal sudah ada karangan bunga dan ucapan selamat segala macam," kata ucap Syamsudin.

Dia menilai, sebagai seorang presiden yang menang dengan perolehan suara tinggi, SBY terlalu tidak bernyali. SBY tidak berinisiatif membangun kabinet profesional yang diisi dengan orang-orang yang kompeten di bidangnya. "Padahal dia memiliki mandat yang jauh lebih kuat," kata Syamsudin. (detiknews.com 22/10/2009)
Halaman 25 dari 25

dk tv "Wajah Asli Obama"

Statistik Website

Anggota : 22
Konten : 1041
Jumlah Kunjungan Konten : 218683






















 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Admin
Redaksi
Marketing

Share on facebook

Share on facebook