Sebagai insan yang beriman, cinta yang kita miliki merupakan sebentuk keajaiban. Karena cinta dapat menjelma laksana gula. Dengan merasakan cinta maka kita dapat merasakan manisnya iman. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah saw, “Siapa pun tidak akan merasakan manisnya iman, hingga ia mencintai seseorang tidak karena yang lain kecuali karena Allah semata.” (HR. Bukhari).
Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah mengabarkan, “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR. Muslim). Hadits ini menjelaskan bahwa dengan cinta dapat menghantarkan kita ke dalam surga dikarenakan besarnya pahala cinta itu.
Dua orang yang saling mencintai karena Allah dapat mengundang ketertarikan para Nabi dan syuhada. Hal ini seperti yang tercantum dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan at-Tirmidzi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, mereka akan mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya. Para Nabi dan syuhada pun tertarik kepada mereka.”
Maka beruntunglah kaum Muhajirin dan Anshar yang telah merasakan keajaiban-keajaiban cinta. Mereka saling berbagi antara satu dengan yang lain. Orang-orang Anshar yang mulia menunjukkan cinta mereka dengan memberikan segala sesuatu untuk saudaranya, kaum Muhajirin. Mereka memberikan harta dan membagikan penghasilannya. Sampai-sampai ada sahabat yang memiliki dua istri menawarkan salah satunya untuk diceraikan dan menjadi istri bagi saudaranya. Hal ini membuktikan betapa besar cinta di antara mereka.
Beruntung pula seorang pecinta yang kisahnya disampaikan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah. Suatu hari ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di kota lain. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk mengikutinya. Ketika malaikat sampai kepadanya, ia berkata, “Hendak ke mana engkau?” Orang itu menjawab, “Aku akan mengunjungi saudaraku di kota ini.” Malaikat itu bertanya lagi, “Apakah ada hartamu yang dikelola olehnya?” Ia pun menjawab, “Tidak ada. Hanya saja aku mencintainya karena Allah.”
Mendengar jawaban tersebut, Malaikat itu berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu. Aku diperintahkan untuk mengatakan bahwa Allah sungguh telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu itu karena Allah.” Dan hakikat kecintaan Allah kepada hamba-Nya – seperti yang disampaikan Al-Baghawi – adalah pujian, pahala dan ampunan-Nya bagi mereka. Allah SWT berfirman, “Niscaya Allah akan mencintaimu dan memberikan ampunan kepadamu.” (QS. Ali Imron: 31).
Konteks saling mencintai di sini bukan sekadar kita mencintai pasangan dan dia pun mencintai kita. Cinta yang dimaksudkan mempunyai makna yang lebih luas, yakni cinta-mencintai sesama muslim. Sebagaimana Rasulullah dan para sahabat saling mencintai. Demikian pula di antara para sahabat.
Oleh karena itu, cintailah saudara seiman kita dan rasakan keajaibannya.
Oleh : Ihsanul Muttaqien
Dua orang yang saling mencintai karena Allah dapat mengundang ketertarikan para Nabi dan syuhada. Hal ini seperti yang tercantum dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan at-Tirmidzi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, mereka akan mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya. Para Nabi dan syuhada pun tertarik kepada mereka.”
Maka beruntunglah kaum Muhajirin dan Anshar yang telah merasakan keajaiban-keajaiban cinta. Mereka saling berbagi antara satu dengan yang lain. Orang-orang Anshar yang mulia menunjukkan cinta mereka dengan memberikan segala sesuatu untuk saudaranya, kaum Muhajirin. Mereka memberikan harta dan membagikan penghasilannya. Sampai-sampai ada sahabat yang memiliki dua istri menawarkan salah satunya untuk diceraikan dan menjadi istri bagi saudaranya. Hal ini membuktikan betapa besar cinta di antara mereka.
Beruntung pula seorang pecinta yang kisahnya disampaikan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah. Suatu hari ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di kota lain. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk mengikutinya. Ketika malaikat sampai kepadanya, ia berkata, “Hendak ke mana engkau?” Orang itu menjawab, “Aku akan mengunjungi saudaraku di kota ini.” Malaikat itu bertanya lagi, “Apakah ada hartamu yang dikelola olehnya?” Ia pun menjawab, “Tidak ada. Hanya saja aku mencintainya karena Allah.”
Mendengar jawaban tersebut, Malaikat itu berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu. Aku diperintahkan untuk mengatakan bahwa Allah sungguh telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu itu karena Allah.” Dan hakikat kecintaan Allah kepada hamba-Nya – seperti yang disampaikan Al-Baghawi – adalah pujian, pahala dan ampunan-Nya bagi mereka. Allah SWT berfirman, “Niscaya Allah akan mencintaimu dan memberikan ampunan kepadamu.” (QS. Ali Imron: 31).
Konteks saling mencintai di sini bukan sekadar kita mencintai pasangan dan dia pun mencintai kita. Cinta yang dimaksudkan mempunyai makna yang lebih luas, yakni cinta-mencintai sesama muslim. Sebagaimana Rasulullah dan para sahabat saling mencintai. Demikian pula di antara para sahabat.
Oleh karena itu, cintailah saudara seiman kita dan rasakan keajaibannya.
Oleh : Ihsanul Muttaqien




